Rusia Sebut Harga Minyak Bakal Pulih 2021

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 07 Sep 2020 09:41 WIB
Harga Minyak Mentah AS Di Bawah Nol, Pembeli Tidak Bayar Malah Ditawari Uang
Foto: DW (News)
Jakarta -

Menteri Energi Rusia Alexander Novak memperkirakan harga minyak akan pulih di kisaran US$ 50-55 per barel pada 2021. Meskipun, pemulihan terbilang lambat akibat masih melemahnya permintaan akibat pandemi virus Corona.

"Perkiraan saya untuk tahun 2021 sedikit lebih sedikit daripada perkiraan Goldman Sachs. Saya memperkirakan kisaran US$ 50-55 per barel, sebagai harga rata-rata untuk tahun ini. Tapi kita bisa mengharapkan volatilitas di pasar, dengan tertinggi dan terendah," ujar Novak, dikutip dari CNBC, Senin (7/9/2020).

Sedangkan, Goldman Sachs pekan lalu menerbitkan catatan prediksi patokan internasional harga minyak mentah sekitar US$ 65 per barel pada kuartal-III 2021. Goldman Sachs memperkirakan kenaikan harga 2021 ini didukung persediaan minyak yang mulai normal.

Perkirakan Novak lebih rendah dari Goldman Sachs. Dia mengungkap pemulihan tahun depan jauh lebih lambat, mengingat perubahan di masa pandemi mempengaruhi keseimbangan energi dan pola perilaku konsumen. Perubahan itu termasuk penurunan perjalanan bisnis, peralihan ke konferensi digital dan bekerja dari rumah, semuanya mengurangi perjalanan. Hal itu tentu mengurangi permintaan minyak.

"Kami ingin berproduksi lebih banyak untuk membantu pemulihan ekonomi tetapi kami terkendala oleh permintaan yang terbatas. Dan tingkat pertumbuhannya juga terbatas," kata Novak.

Novak menambahkan meningkatnya penggunaan sumber energi non-karbon juga mempengaruhi pemulihan minyak. Tentu pemulihan akan lebih lambat dalam jangka panjang.

Pekan lalu harga minyak turun lebih dari 3% dengan harga minyak mentah Brent berkisar US$ 42,67 per barel. Penurunan ini akibat tekanan ekuitas dan pergerakan ekonomi yang lambat di tengah pandemi virus Corona.

Penurunan harga juga terjadi karena permintaan bensin domestik lebih rendah. Selain itu, pertumbuhan pekerjaan AS yang melambat pada Agustus lalu juga mempengaruhi harga minyak karena dana bantuan pemerintah mengering.

"Kami memiliki kinerja kuartal-II yang cukup buruk, situasi di bulan Juli dan Agustus sedikit membaik, dengan pasar pada bulan Juli mencapai keseimbangan secara keseluruhan meskipun permintaan di bulan Juli masih turun sekitar 10 juta barel per hari," jelas Novak.

Novak mengungkap penurunan permintaan itu diimbangi oleh penurunan produksi sejak Mei oleh aliansi negara-negara Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan non-OPEC. Dia berharap jika keseimbangan ini terus terjadi. Pemulihan bisa dilakukan secara bertahap dan melakukan pengurangan cadangan yang telah menumpuk selama kuartal-II atau selama krisis 2020.



Simak Video "Harga Minya Dunia Anjlok, Jokowi: Manfaatkan Peluang Ini"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)