Program 35.000 MW Baru 24%, Tak Selesai di Era Jokowi

Tim detikcom - detikFinance
Rabu, 23 Sep 2020 13:21 WIB
Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas Mobile Power Plant (PLTG/MG MPP) Ternate berkapasitas 30 MW telah beroperasi. Pembangkit ini memasok listrik ke Sistem Ternate Tidore.
Ilustrasi/Foto: Agus Trimukti/Humas PLN.
Jakarta -

Pembangkit listrik yang telah beroperasi dalam program 35.000 megawatt (MW) sebesar 8.400 MW hingga Agustus 2020. Angka itu baru mencapai 24% dari total program.

Padahal, program ini sebelumnya ditargetkan rampung pada 2019 lalu.

"Status progres program 35.000 MW khususnya pembangkit tenaga listrik disampaikan sampai dengan Agustus 2020 proyek pembangkit yang telah masuk operasi sebesar 8.400 MW atau 24%," kata Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam seminar online, Rabu (23/9/2020).

Arifin mengatakan, semua pembangkit listrik dalam program tersebut bakal operasi antara tahun 2028 hingga 2029. Artinya, program ini tak selesai bahkan di periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Diharapkan di tahun 2028 atau sampai 2029 seluruh program 35.000 MW ini bisa diselesaikan," katanya.

Lebih lanjut Arifin menuturkan, pembangkit yang dalam tahap konstruksi ialah 19.055 MW atau 54%. Kemudian, pembangkit yang sudah kontrak namun belum konstruksi 6.528 MW atau 18%

"Dan sisanya berupa pengadaan 839 MW dan perencanaan 724 MW," ujarnya.

Dalam catatan detikcom, peresmian program 35.000 MW untuk 5 tahun ke depan dilakukan pada Mei 2015. Saat itu, Jokowi menegaskan, proyek ini bukan lah proyek infrastruktur yang ambisius. Kebutuhan listrik di Indonesia sangat diperlukan karena masih banyak daerah yang defisit listrik.

"Ini bukan proyek yang ambisius. Dan bukan sebuah target yang sangat tinggi," kata Jokowi saat membuka peresmian proyek 35.000 MW, Senin (4/5/2015)

Namun, Jokowi kemudian berencana melakukan penyesuaian pada program 35.000 MW. Alasannya melihat kondisi pertumbuhan ekonomi dan menjaga keuangan PT PLN (Persero).

Memang target listrik 35.000 MW dibuat dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah 7% per tahun. Namun saat ini realisasinya hanya di kisaran 5%, sehingga target 35.000 MW hingga 2019 harus disesuaikan.

"Begini lho, dulu hitungan kita kan sesuai dengan pertumbuhan ekonomi. Ini tentu saja PLN itu kalau nanti kalau terlalu over juga, bayar apanya, cicilannya juga berat. Oleh karena itu disesuaikan anunya, kebutuhannya disesuaikan, dihubungkan dengan pertumbuhan ekonomi yang ada," tutur Jokowi saat meresmikan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Jawa 7, 9, dan 10 di Desa Terate, Serang, Banten, Kamis (5/10/2017).

(upl/upl)