Pemerintah Minta Bantuan Milenial Kembangkan Energi Terbarukan

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Jumat, 25 Sep 2020 16:13 WIB
Kementerian ESDM mencatat bauran energi baru dan terbarukan (EBT) telah mencapai 15 persen. EBT ditargetkan mencapai 23 persen pada 2025 mendatang.
Foto: Antara Foto
Jakarta -

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengajak generasi milenial terlibat aktif dalam menjawab tantangan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT). Partisipasi milenial diharapkan dapat membantu misi pemerintah dalam menurunkan emisi gas rumah kaca, bauran EBT hingga peningkatan rasio elektrifikasi.

Kontribusi milenial terhadap EBT dengan mengikuti Hackathon New Energy Nexus yang merupakan hackathon pertama Nexus yang diselenggarakan di Indonesia. Dengan mengusung tema energi pintar dan terbarukan, [RE]energize Indonesia, Nexus membuka kesempatan bagi tiap individu maupun tim mencari solusi berbasis EBT dalam menyelesaikan permasalahan di bidang kesehatan dan produktivitas masyarakat.

"Kami harapkan kegiatan semacam ini dapat melibatkan anak-anak muda yang kreatif untuk mengembangkan model bisnis EBT yang dapat diimplementasikan," ungkap Direktur Konservasi Energi Hariyanto dalam keterangan tertulis, Jumat (25/9/2020).

Hariyanto menuturkan akselerasi pencapaian target tersebut, terutama pembangkit EBT offgrid di wilayah terpencil tidak cukup hanya dibebankan kepada pemerintah baik pusat maupun daerah secara mandiri. Sebab, di samping keterbatasan pendanaan ada juga masalah keberlanjutannya.

Untuk itu, kata dia, peran swasta dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) dinilai pemerintah cukup krusial. Terobosan ini patut dilakukan mengingat masih tingginya biaya investasi awal untuk proyek berbasis ramah lingkungan tersebut.

"Keterlibatan BUMD dan BUMDes sebagai perusahaan lokal juga penting," tegas Hariyanto.

Lebih lanjut, Hariyanto berharap peran pemuda dalam menyebarkan informasi dan pengetahuan EBT melalui media sosial dapat mengubah kultur atau kebiasaan hemat energi pada peralatan elektronik sehari-hari guna mendukung program konservasi energi, memberikan dukungan atas progam pemerintah dalam pengembangan EBTKE hingga menggali pengetahuan tentang teknologi pengembangan EBTKE di masa depan.

Menurut Hariyanto Indonesia punya potensi besar dalam pengembangan EBT. Beberapa sumber energi yang bisa dioptimalkan, antara lain surya (207,8 Giga Watt atau GW), air (75 GW), bayu/angin (60,6 GW), bioenergi (32,6 GW), panas bumi (23,9 GW) dan samudera (17,9 GW).

Sementara itu, Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Surya Darma menggarisbawahi pentingnya EBT sebagai kultur global baru sebagai sumber energi. Ia mengungkapkan penggunaan EBT di dunia akan mengalami lonjakan hingga 50% pada tahun 2025 dan meningkat ke 80% di tahun 2050.

"Tren dunia sekarang mengalihkan penggunaan energi fosil ke energi terbarukan. Ini akan mengubah pola sikap, pola hidup, pola manajemen. Ini bukan hanya sebagai tantangan, tapi juga peluang karena Indonesia memiliki (sumber) EBT yang komplit dibandingkan negara lain," pungkas Surya.

Pendaftaran secara daring program hackathon ini dibuka mulai 24 September 2020 hingga 10 Oktober 2020. Sepuluh tim yang terseleksi akan mempresentasikan solusinya pada Demo Day dan mendapatkan bimbingan dari enam ahli di bidangnya untuk menajamkan inovasi yang mereka usung. Pemenang hackathon akan meraih total hadiah sebesar Rp 100 juta dan mendapatkan akses ke program Smart Energy Incubation and Acceleration.



Simak Video "Energi Alternatif Dari Urine, Malang"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/hns)