Pandemi Belum Usai, OPEC Pangkas Proyeksi Permintaan Minyak

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 08 Okt 2020 22:00 WIB
60 Tahun OPEC: Dulu Ditakuti Barat, Sekarang Hampir Sekarat
Foto: DW (News)
Jakarta -

Organisasi negara pengekspor minyak Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan permintaan minyak jangka panjang. Hal tersebut terjadi karena industri menghadapi tantangan dampak pandemi Corona dan kebijakan mengenai iklim.

Seperti diberitakan CNBC, Kamis (8/10/2020), dalam World Oil Outlook, organisasi yang didominasi negara Timur Tengah ini memaparkan ekspektasi jangka menengah dan panjang pada ekonomi global, permintaan energi, dan sejumlah kebijakan terkait. Proyeksi OPEC juga diperpanjang dari semula sampai 2040 menjadi 2045.

OPEC menyatakan, permintaan minyak dunia diperkirakan akan meningkat hampir 10 juta barel per hari dalam jangka panjang. Permintaan itu meningkat menjadi 109,3 juta barel per hari pada 2040 dan 109,1 juta barel per hari pada 2045.

Proyeksi tersebut mewakili revisi turun lebih dari 1 juta barel per hari pada 2040 jika dibanding proyeksi 2019 lalu.

"Dari sudut pandang energi, resesi ekonomi yang dipicu oleh lockdown telah mengakibatkan penurunan tajam dalam permintaan energi dan minyak," tulis laporan OPEC.

Lebih lanjut, OPEC meyakini minyak masih tetap menjadi kontributor terbesar bauran energi hingga 2045 yakni menyumbang lebih dari 27%. Kemudian diikuti gas sekitar 25% dan batu bara 20%. Sumber energi tersebut juga menjadi tiga penyumbang terbesar pangsa bahan bakar di tahun 2019.

Kontribusi dari energi matahari, angin dan panas bumi diharapkan tumbuh rata-rata sebesar 6,6% per tahun hingga tahun 2045, lebih cepat daripada sumber energi lainnya. Sumber energi terbarukan ini diharapkan mewakili 8,7% dari pangsa bahan bakar pada tahun 2045, naik dari 2,1% dari tahun 2019.

Lalu, ekonomi dunia diperkirakan akan tumbuh lebih dari dua kali lipat dengan PDB global diperkirakan melebihi US$ 258 triliun pada tahun 2045, naik dari sekitar US$ 121 triliun pada tahun 2019.

(acd/eds)