Bukan BBM Atau Batu Bara, Ini Sumber Energi Primadona Masa Depan!

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 14 Okt 2020 11:26 WIB
ilustrasi mati lampu
Foto: iStock
Jakarta -

Tenaga surya diprediksi melonjak 80% beberapa tahun mendatang seiring meningkatkan kebutuhan listrik di banyak negara. Menurut Internasional Energy Agency (IEA) atau Badan Energi Internasional penghasil tenaga listrik lebih murah dengan energi matahari dibandingkan dengan batu bara.

Dikutip dari CNN, Rabu (14/10/2020) IEA melaporkan salah satu sumber listrik termurah dalam sejarah yakni sel surya fotovoltaik. Sistem fotovoltaik dapat dipasang sebagai panel di rumah atau bisnis, serta digunakan di taman surya.

Menurut International Renewable Energy Agency atau Badan Energi Terbarukan Internasional biaya listrik dari instalasi fotovoltaik skala besar telah turun dari sekitar 38 sen per kilowatt-jam pada 2010 menjadi rata-rata global 6,8 sen per kilowatt-jam.

Menurut Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol berdasarkan laporan IEA tenaga surya dapat menjadi primadona pasar listrik dunia.Tentunya hal itu perlu pengaturan dan kebijakan yang tepat agar berada di jalur yang sesuai untuk mencetak rekor baru setiap tahunnya setelah 2022.

Laporan IEA juga menjabarkan tiga skenario untuk pengembangan pasar energi global di masa depan pasca pandemi COVID-19. Salah satu skenario yang diekplorasi IEA menghasilkan kemungkinan yang akan dirasakan dunia, pertama permintaan energi global ke tingkat normal pada 2023. Kedua jumlah sistem fotovoltaik tumbuh dengan kuat, dan ketiga meningkatkan kapasitas matahari rata-rata 12% per tahun hingga 2030.

Listrik energi bersih diharapkan meningkatkan konsumsi energi secara keseluruhan, mengingat bahwa penyediaan tenaga listrik bersih ke sektor-sektor seperti transportasi sangat penting untuk masa depan rendah karbon.

Menurut IEA, tenaga surya tetap menjadi pilihan yang hemat biaya. Pangsa gabungan fotovoltaik surya dan angin meningkat dari 8% pada 2019 menjadi hampir 30% pada 2030.

"Jika pemerintah dan investor meningkatkan upaya energi bersih mereka, pertumbuhan tenaga surya dan angin akan menjadi lebih spektakuler dan sangat mendorong untuk mengatasi tantangan iklim dunia," kata Birol.

Perusahaan minyak seperti BP (BP) dan Royal Dutch Shell (RDSA) telah meluncurkan perubahan strategis utama menuju energi rendah karbon dan menjadi tanda pandemi membawa perubahan besar ke pasar energi global.

Menurut laporan IEA berkurangnya aktivitas ekonomi dan permintaan listrik akibat pandemi COVID-19 telah menurunkan permintaan batu bara global. IEA memperkirakan 275 gigawatt kapasitas berbahan bakar batu bara akan dihentikan pada tahun 2025. Itu sekitar 13% dari total kapasitas batu bara pada 2019. Jika ekonomi global pulih tahun depan, pangsa batu bara turun dari 37% menjadi 28% pada tahun 2030.

"Peningkatan energi terbarukan, dikombinasikan dengan gas alam murah dan kebijakan penghapusan batu bara, berarti permintaan batu bara di negara maju turun hampir setengahnya hingga 2030," kata IEA.

IEA juga mengungkap pertumbuhan penggunaan batu bara di negara berkembang di Asia, seperti India, jauh lebih rendah. Penurunan juga terjadi pada prospek minyak, BP memperkirakan permintaan minyak mungkin tidak akan pernah kembali ke level tertinggi 2019 akibat pandemi COVID-19.



Simak Video "Premium Bakal Dihapus, Ini Tanggapan Warga"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)