Ahok: Saya Dirut Nyaru Komut

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 19 Okt 2020 08:42 WIB
Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok meluncurkan buku Panggil Saya BTP di Gedung Tempo, Palmerah, Jakarta Selatan, Senin (17/2/2020).
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)/Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok kembali membuat pernyataan yang mengejutkan. Dalam sebuah video bersama seniman Butet Kertaradjasa di YouTube, dia mengaku bahwa di Pertamina sebagai Direktur Utama (Dirut) yang nyaru menjadi Komisaris Utama (Komut).

"Makanya ada yang ledekin, ini Komut rasa Dirut. Saya juga bercanda, saya bukan Komut rasa Dirut, (tapi) Dirut nyaru Komut gitu karena kita awasi kan," tutur Ahok dengan nada bercanda dikutip detikcom, Senin (19/10/2020).

Hal itu dilontarkan karena keberadaannya yang dianggap sering membuat beberapa gebrakan. Dia bercerita bagaimana ide-idenya dalam membenahi Pertamina.

"Pertama kita perbaiki itu adalah soal jenjang karier. Kalau dahulu di Pertamina itu dapat nilai bagus cuma boleh naik satu tingkat PRL-nya (Pertamina Reference Level). Jadi kalau orang mau jadi Vice President, orang mesti kerja mungkin di atas 20 tahun. Ini urut kacang, sekarang saya potong. Kita masuk yang kedua kali, kita tes, tadi baru rapat juga bahwa kalau kamu tes bagus juga bisa langsung loncat 4-5 kali," tuturnya.

Ahok juga bercerita, saat ini sudah ada lelang jabatan di Pertamina dan siapapun karyawan bisa mengikutinya. Namun, ia mengaku lebih suka mengocok ulang seluruh Sumber Daya Manusia (SDM) di Pertamina dengan melakukan tes seperti yang dia terapkan saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

"Saya kurang puas karena kotak lelang hanya buat yang pensiun, yang kosong, saya tidak mau, saya maunya kocok ulang kayak yang di DKI dulu. Waktu di DKI kan kalau nggak salah ada 10.000 atau 11.000 jabatan struktur kita pangkas tinggal 6.000 kalau nggak salah. Semua dikocok ulang tuh dilantik ulang di Monas, harusnya begitu kan baru kita dapatkan yang terbaik dari yang terbaik, tersistem," ujarnya.

Ahok juga bercerita keinginannya menggunakan sistem digitalisasi dalam hal apapun di Pertamina, termasuk tanda tangan yang bisa dilakukan dengan digital. Selain itu, dia juga mengubah kewajiban Komisaris yang tadinya rapat hanya 4 kali dalam satu tahun kini lebih sering.

"Kewajiban rapat itu hanya 4 kali dalam setahun sebetulnya Dewan Komisaris itu. Nah, kami rapatnya itu tiap minggu pasti sekali. Tapi faktanya karena banyak urusan, kita kadang-kadang rapat seminggu 3x, 4x," tandasnya.

(ara/ara)