Ssst... Ada Kabar Pemadaman Listrik Bergilir Sampai Maret

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 25 Jan 2021 15:12 WIB
Faisol Riza Pimpin Rapat Komisi VI DPR RI
Ketua Komisi VI DPR RI Faisol Riza/Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Ketua Komisi VI DPR RI Faisol Riza mengungkap kemungkinan adanya pemadaman listrik bergilir. Hal itu diungkap Faisol melalui postingannya di Instagram @faisol8418.

Lewat postingannya itu, Faisol memperkirakan akan berlangsung sampai Maret. "Kemungkinan sampai Maret," tulis Faisol, Senin (25/1/2021).

Saat dikonfirmasi detikcom, Faisol menuturkan hal itu mungkin terjadi. Ada beberapa penyebab yang bisa memicu pemadaman listrik bergilir.

Pertama, hal tersebut dipicu harga batu bara yang mengalami kenaikan. Dia bilang, saat ini PLN kesulitan pasokan batu bara karena batu bara tersebut diekspor. Di sisi lain, PLN tak bisa menaikkan harga supaya bisa menyerap batu bara tersebut.

"Pertama, PLTU kita itu sekarang ini sedang mengemis-ngemis kepada pengusaha batu bara, jadi yang apa, harga di luar negerinya sedang naik sementara PLN tidak bisa menaikkan harga batu bara pada hari ini," katanya.

"Nah mau tidak mau pengusaha-pengusaha yang banyak ekspor ini diminta tolong oleh PLN agar mereka berkomitmen untuk memasok batu bara di PLTU PLN itu lah makanya kemudian ada masalah soal supply batu bara," tambahnya.

Kedua, pasokan batu bara terhambat karena adanya bencana yang terjadi di Tanah Air. Salah satunya banjir di Kalimantan Selatan yang merupakan pemasok batu bara.

"Kedua karena sekarang banyak bencana alam salah satunya banjir di Kalsel kemarin itu menyebabkan pasokan atau supply batu bara terhambat. Nah dua hal inilah yang menyebabkan PLN harus memutar otak supaya beberapa PLTU itu terus berproduksi," katanya.

Faisol bahkan mendapat informasi, salah satu PLTU di Sumatera dipertimbangkan untuk dimatikan karena pasokan batu bara tersendat.

"Saya dengar di Sumatera sedang dipertimbangkan misalnya PLTU Ombilin untuk dimatikan, karena memang supply batu bara yang dibutuhkan tidak sampai ke sana. Mudah-mudahan ancaman bencana alam tidak lebih parah sehingga kita masih bisa melakukan produksi listrik sesuai dengan kebutuhan," paparnya.

(acd/ara)