Pandemi Bikin Laba Shell Anjlok 71%, Jadi Rp 67 Triliun

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 04 Feb 2021 22:56 WIB
Shell Indonesia kembali menambah jumlah SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) di dua wilayah berbeda di Pulau Jawa yaitu di Cirebon (Jawa Barat) dan Alam Sutera (Tangerang).
Ilustrasi/Foto: Shell
Jakarta -

Pandemi COVID-19 telah menggerus laba Royal Dutch Shell selama tahun 2020. Produsen minyak dan gas (migas) itu hanya mencetak laba US$ 4,8 miliar atau sekitar Rp 67 triliun (kurs Rp 14.000) atau anjlok 71%.

Namun, perusahaan tersebut masih cukup beruntung, ketimbang kompetitornya yakni BP yang justru mencatatkan kerugian senilai US$ 5,7 miliar atau setara Rp 80 triliun.

"Kami keluar pada tahun 2020 dengan neraca yang lebih kuat," kata CEO Shell Ben van Beurden dalam sebuah pernyataan, seperti yang dikutip dari Reuters, Kamis (4/2/2021).

Meskipun terjadi penurunan penjualan bahan bakar hingga 28% selama 2020, namun pendapatan perusahaan dari penjualan di jaringan global yang terdiri lebih dari 45.000 stasiun pengisian hanyalah turun 3% dari tahun sebelumnya, menjadi US$ 4,6 miliar atau setara Rp 64 triliun.

Tetapi pada saat yang sama, arus kas Shell turun hampir seperlima dari tahun 2019. Lalu, debt to equity ratio (DER) atau rasio utang terhadap ekuitas naik dari 29% menjadi 32%, melebihi target perusahaan.

Laba kuartal IV-2020 turun 87% dari tahun sebelumnya atau secara year on year (yoy) menjadi US$ 393 juta atau setara Rp 5,51 triliun.

Utang bersih Shell pada kuartal IV-2020 naik sekitar US$ 2 miliar dibandingkan kuartal III-2020 menjadi US$ 75,4 miliar atau setara Rp 1.058 triliun, dengan DER meningkat hingga 32,3%.

Perusahaan-perusahaan migas dunia memang tengah mengalami tekanan besar dari pandemi yang meruntuhkan permintaan di berbagai negara. Meski begitu, Shell berencana menaikkan dividennya pada kuartal I-2021 ini sebesar 4% dibandingkan kuartal IV-2020.

(vdl/hns)