Sejarah dan Profil Kilang Minyak Pertamina Balongan yang Kebakaran

Soraya Novika - detikFinance
Senin, 29 Mar 2021 08:52 WIB
Pertamina melindungi kilang minyak RU VI Balongan dari serangan pesawat tanpa awak. Bekerjasama dengan Kemhan, mereka memasang Anti Drone (Drone Jammer).
Foto: Kemenhan
Jakarta -

Kilang minyak Pertamina di Balongan, Indramayu Jawa Barat mengalami insiden kebakaran dini hari tadi. Begini profil kilang yang memproduksi bahan bakar minyak (BBM) tersebut.

Kilang Balongan PT Pertamina (Persero) atau Refinery Unit (RU) VI Balongan merupakan kilang keenam dari 7 kilang Direktorat Pengolahan PT Pertamina dengan kegiatan bisnis utamanya adalah mengolah minyak mentah (Crude Oil) menjadi produk-produk BBM (Bahan Bakar Minyak), Non BBM dan Petrokimia.

Dikutip dari situs resmi dan laporan keberlanjutan perseroan, Senin (29/3/2021) diketahui Kilang Balongan dibangun tahun 1990 melalui proyek export oriented refinery I (EXOR-I), yang bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah bagi negara melalui ekspor sektor migas dan non-migas sesuai dengan kebijakan Pemerintah. Lalu, mulai beroperasi sejak tahun 1994 lalu.

Setelah itu, kilang ini rutin melakukan pembenahan kilang (revamping) dan ekspansi. Revamping tahap I dilakukan di tahun 2003, guna meningkatkan kapasitas produksi menjadi 130 MBSD dengan rasio 50% crude oil Duri dan 50% crude oil Minas.

Dua tahun kemudian tepatnya di tahun 2005, unit ini melakukan ekspansi dengan mendirikan Kilang Langit Biru Balongan (KLBB) dengan kapasitas desain sebesar 52 MBSD. KLBB sebagai satu-satunya produsen produk ramah lingkungan High Octane Mogas Component (HOMC) di Indonesia.

Di tahun 2008, kembali dilakukan revamping tahap II untuk meningkatkan produksi Propylene. Pada tahap ini dilakukan penggantian type catalyst cooler RCC dari type backmix menjadi flow through sehingga RCC dapat mengolah feed dengan kandungan MCRT lebih tinggi.

Pada 2013, dilakukan lagi ekspansi di bidang petrokimia dengan mendirikan kilang ROPP yang dapat meningkatkan produksi Propylene dengan kapasitas desain 490 MTPD.

Pada 13 Desember 2015, dilakukan pengalihan pengelolaan Kilang LPG Mundu ke Direktorat Gas dan Energi Baru Terbarukan.

Selanjutnya, pada 2016 kilang ini mengembangkan produk bahan bakar khusus (BBK) yaitu Pertalite RON 90. Lalu, Pertamax Plus RON 95 dikembangkan menjadi produk Pertamax Turbo RON 98 dan diluncurkan pada 13 Juli 2016.

Pada tahun yang sama, kilang ini mengerjakan Projek Avtur tahap I, optimasi dan alih fungsi Unit Proses untuk menghasilkan produk.

Lihat juga video 'Kilang Pertamina Balongan Terbakar, Asap Masih Membubung':

[Gambas:Video 20detik]



lanjut ke halaman berikutnya

Selanjutnya
Halaman
1 2