4 Fakta Smelter Freeport yang Mau Dibangun China

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 31 Mar 2021 19:00 WIB
Perundingan antara pemerintah dan PT Freeport Indonesia masih berjalan. Menteri ESDM, Ignasius Jonan, memastikan PT Freeport setuju divestasi saham 51%.
Foto: Pool
Jakarta -

Perusahaan China, Tsingshan berminat membangun smelter pemurnian tembaga di Indonesia. Smelter tersebut untuk mengolah hasil tambang di PT Freeport Indonesia (PTFI).

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI. Berikut fakta-faktanya:

1. Tawarkan Bangun di Halmahera

Orias memaparkan ada tawaran dari perusahaan China, Tsingshan untuk membangun smelter di Halmahera, Maluku Utara untuk fasilitas pemurnian hasil tambang PTFI.

"Kami mendapatkan tawaran juga dari pihak lain dalam hal ini dari pihak Tsingshan untuk ada alternatif untuk ke Halmahera," kata dia, Rabu (31/3/2021).

2. Diteken Besok

Pada kesempatan RDP tersebut, Anggota Komisi VII DPR RI Nasyirul Falah Amru mendapatkan informasi bahwa Tsingshan dan PTFI akan melakukan kesepakatan besok, 1 April 2021. Info itu, kata dia didapat dari Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan.

"Saya ingin menanyakan kalau nggak salah besok tanggal 1 April itu ada kesepakatan Tsingshan dengan PT Freeport ini katanya Pak Luhut. Nah akhirnya di mana yang namanya pembangunan smelter ini?," tanyanya.

3. Masih Dibahas

Orias mengatakan masih melakukan pembahasan apakah smelter akan tetap dilanjutkan dibangun di Gresik atau pindah ke Halmahera dengan menggandeng perusahaan China.

"Ini kita melakukan pembahasan keputusan apakah akan di Halmahera atau terus di Gresik itu belum diambil. Tetapi yang pasti di Gresik kita tetap jalan dan yang dikeluarkan di Gresik itu investasinya sudah hampir sekitar US$ 300 juta. Jadi itu memang kita tetap serius di sana sampai keputusan final kita akan ke mana," paparnya.

4. Jika Jadi, China Biayai 70%

Dia menjelaskan, hitung-hitungannya kalau pembangunan smelter tetap di Gresik butuh biaya sekitar US$ 2,6-3 miliar, dan pembiayaannya melalui Freeport lewat pinjaman. Sementara jika dibangun di Halmahera bersama Tsingshan, mayoritas didanai perusahaan asing itu.

"Kita akan sekitar 25% atau 30%, dan 70% adalah mitra dari China yaitu Tsingshan. Itu struktur yang diperhitungkan supaya dana yang akan dikeluarkan oleh Freeport itu tidak terlalu besar. Itu hitung-hitungan yang membuat mengapa kita harus memikirkan alternatif itu," tambah Orias.

Lihat juga Video: Terapkan New Normal, Freeport Perbarui Protokol Kerja

[Gambas:Video 20detik]



(toy/eds)