Bantu Petani Lewat Electrifying Agriculture, PLN Salurkan Rp 4,8 M

Khoirul Anam - detikFinance
Minggu, 04 Jul 2021 17:21 WIB
PLN
Foto: PLN
Jakarta -

PT PLN (Persero) melalui PLN Peduli mengalokasikan dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sebesar Rp 4,84 miliar untuk mendukung sektor pertanian di 54 lokasi se-Indonesia. Adapun dana disalurkan melalui program Electrifying Agriculture.

Electrifying Agriculture merupakan program pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas pertanian melalui pemanfaatan energi listrik. Hal ini untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman atau mempermudah pengolahan infrastruktur pendukung pertanian, peternakan, dan perikanan.

"Diharapkan program-program Electrifying Agriculture ini mampu meningkatkan produktivitas dalam sektor pertanian sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ungkap Executive Vice President Komunikasi Korporat dan CSR PLN, Agung Murdifi, dalam keterangan tertulis, Minggu (4/7/2021).

Agung menyebutkan, salah satu contoh program Electrifying Agriculture sudah dilaksanakan berada di Desa Betet, Ngronggot, Nganjuk, Jawa Timur. Desa tersebut dikenal dengan Wisata Tani Listrik Terpadu Betet yang mengusung Wisata Tani Unggul di Tangan Pemuda Regul.

Tidak hanya menawarkan sisi wisata, lanjut Agung, Desa Betet juga digunakan sebagai tempat pertanian milenial yang mengkolaborasikan penerapan teknologi dan sektor pertanian.

"Di mana dalam sektor pertanian green house menggunakan sinar ultraviolet untuk mempercepat masa tanam pada tanaman hidroponik, seperti tanaman sawi pakcoy (bok choy), kangkung, bayam, serta penggunaan sprinkle pada lahan bawang agar dapat terairi secara baik," terang Agung.

Wakil Bupati Nganjuk Marhen Djumadi menilai, program PLN Peduli ini memiliki wujud dan dampak yang nyata bagi masyarakat. Menurutnya, program ini mendukung upaya Pemerintah Kabupaten Nganjuk untuk mewujudkan peningkatan perekonomian dan pemberdayaan masyarakat.

"Terima kasih kepada PLN, BUMN kebanggaan kita yang telah membantu Desa Betet," kata Marhen.

Ketua Kelompok Tani Achmad Syaikhu menjelaskan, Wisata Tani Listrik Terpadu Betet tetap melakukan kegiatan selama masa pandemi dengan mengikuti arahan dari pemerintah dan menetapkan protokol kesehatan.

"Terima kasih kepada PLN. Dengan adanya listrik dalam lingkungan persawahan pertanian, para petani merasa terbantu dalam segi penghematan biaya operasional untuk penggunaan bahan bakar minyak, dan penggunaan sprinkler dalam pertanian mampu menghemat tenaga kerja, penggunaan air, dan mengurangi hama pada tanaman bawang," ujarnya.

Selain Desa Betet, PLN juga membantu peningkatan produktivitas petani buah naga di Banyuwangi melalui program 'Listrik untuk Sang Naga'. Program ini mendorong peningkatan perekonomian petani karena panen dapat dilakukan sepanjang tahun, di mana untuk 1 hektar lahan dengan penyinaran dapat menghasilkan buah naga sebanyak 77 ton tiap tahunnya atau naik hingga 4 kali lipat.

Diketahui, dampak secara masif pun bukan hanya dirasakan oleh petani buah naga, melainkan juga masyarakat. Tercatat sampai dengan Juni 2020, sudah 6618 petani buah naga yang memanfaatkan listrik sebagai teknologi untuk menyinari ladang mereka.

Efek domino dari program ini membantu menciptakan banyak lapangan kerja yang tumbuh dari sektor pendukung pertanian buah naga, mulai dari berbagai usaha pengolahan buah naga, hingga munculnya kelompok sadar wisata yang menjadikan ladang buah naga sebagai destinasi agrowisata, seperti Agrowisata Petik Jeruk dan Buah Naga.

(ega/ega)