Jurus Maksimalkan Ekspor Batu Bara yang Harganya Lagi Meroket

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 19 Jul 2021 20:15 WIB
Batu bara di kapal CB 121 Banjarmasin terbakar dan mengeluarkan asap tebal. Nelayan di perairan Pulorida, Merak, khawatir pernapasannya terganggu.
Foto: Muhammad Iqbal
Jakarta -

Harga Batu bara Acuan (HBA) meningkat sebesar US$ 115,35 per ton setara Rp 1,6 juta/ton per Juli ini, selisih US$ 15,02 dibandingkan pada Juni 2021 berada di level US$ 100,33 per ton. Kenaikan itu, mendorong perusahaan batu bara untuk meningkatkan produksi hingga ekspor batu bara.

Direktur PT Batulicin Nusantara Maritim (BNM), Yuliana mengatakan meningkatnya harga HBA tersebut telah mempengaruhi nilai produksi batubara menjadi semakin besar. Untuk itu distribusi batu bara ke negara lain harus dimaksimalkan.

Yuliana mengungkap pihaknya tengah melakukan pengecekan kesiapan semua armada transportasi yang dimiliki oleh PT BNM. Sebab saat ini permintaan batu bara dari beberapa negara di kawasan Asia Timur, khususnya di negara China juga sedang meningkat.

"Hal itu juga dilakukan untuk membantu pemerintah mencapai target penerimaan pendapatan nasional dari produksi di tahun ini. Karena itu, kami akan fokus untuk meningkatkan performa operasional, efektifitas dan efisiensi produksi, dan menjaga posisi keuangan perusahaan tetap kuat," ujar Yuliana pada keterangannya Kamis (19/7/2021).

Ia menambahkan pihaknya memastikan semua moda transportasi seperti kapal tug boat dan tongkang dapat digunakan secara maksimal demi berjalannya distribusi batu bara yang lebih efektif dan efisien.

Yuliana berharap agar kedepannya upaya pengoptimalan kinerja dan kesiapan PT BNM dapat mewujudkan percepatan proyek hilirisasi produksi batubara yang telah ditargetkan pemerintah sebagai upaya untuk substitusi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Bahan Bakar Gas (BBG)

Permintaan yang meroket juga menyeret nilai saham PT. BNM melonjak sebesar 47.52% sejak beberapa minggu terakhir, yakni sebesar 1010.00 dari 530.00 pada tanggal 2 Juli yang lalu. Yuliana yakin nilai saham perusahaan akan terus meningkat.

"Gejolak nilai ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti fokus negara Tiongkok yang berusaha menjaga kestabilan nilai produksi batubaranya pasca pandemi dan kondisi cuaca hujan yang kurang bersahabat, wacana pencabutan larangan impor batubara dari Australia, dan lainnya," tutup Yuliana.

Sebagai informasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga batu bara acuan (HBA) Indonesia pada Juli 2021 sebesar US$ 115,35 per ton. Angka ini naik US$ 15,02 per ton dibandingkan Mei yang sebesar US$ 100,33 per ton.

(dna/dna)