Harga Nikel Cerah, Produsen Targetkan Laba Setinggi-tingginya

Tim detikcom - detikFinance
Jumat, 30 Jul 2021 08:30 WIB
Nikel
Harga Nikel Cerah, Produsen Targetkan Laba Setinggi-tingginya
Jakarta -

Harga nikel diyakini masih cukup cerah di sisa tahun ini. Hingga 28 Juli 2021, harga nikel naik 17,6% dibandingkan harga akhir tahun 2020 atau year to date (ytd). Tingginya harga nikel ini membuat produsen optimis bisa meraup keuntungan yang tinggi.

Emiten produsen nikel, PT PAM Mineral Tbk (NICL) optimis tahun ini dapat mencatatkan kenaikan laba hingga 263%. Ruddy Tjanaka, Direktur Utama PAM Mineral memaparkan, manajemen perusahaan memprediksi penjualan di sepanjang 2020 senilai Rp 195,44 miliar dan laba komprehensif periode berjalan sebesar Rp 28,45 miliar.

Ruddy mengatakan, laba usaha di sepanjang tahun lalu bisa tumbuh cukup signifikan karena kenaikan pendapatan penjualan dari anak perusahaan, PT Indrabakti Mustika (IBM).

"Di sepanjang tahun ini, kami memproyeksikan volume penjualan mencapai 1.800.000 metric ton (MT) atau naik 87,04% dari realisasi penjualan pada 2020 sebesar 695.034 metric ton," kata Ruddy dalam keterangannya, Jumat (30/7/2021).

Seiring dengen pertumbuhan volume penjualan di tahun ini, manajemen NICL memproyeksikan dapat meraih laba bersih sebesar Rp 103 miliar, atau melonjak hingga 263,46% yoy dari laba bersih konsolidasi tahun 2020 yang senilai Rp 28,45 miliar.

Ruddy optimistis bisnis nikel ke depan cukup menjanjikan, seiring dengan tingginya permintaan bijih nikel di pasar domestik serta kecenderungan harga nikel yang semakin meningkat. Terlebih, pemerintah sedang mengembangkan industri dan ekosistem kendaraan listrik melalui pembentukan holding BUMN baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC), yang bekerjasama dengan produsen mobil listrik dunia, LG Chem (Korea) dan CATL (China).

Pabrik baterai tersebut ditargetkan untuk mulai beroperasi pada 2023. Karena itu, nikel berkadar rendah akan banyak dibutuhkan untuk campuran dengan jenis logam Cobalt sebagai bahan baku baterai. Di sisi lain, permintaan bijih nikel berkadar tinggi juga terus meningkat, terutama karena adanya industri pengolahan atau smelter.

Dengan eksplorasi yang terus menerus dilakukan, PAM Mineral percaya diri, dapat memiliki sumberdaya 28 juta ton lebih bijih nikel. Dari 28 juta bijih nikel tersebut, lanjut Ruddy, tidak semua memiliki kadar tinggi namun juga terdapat bijih nikel dengan kadar rendah. Selain bijih nikel kadar tinggi, NICL juga telah melakukan penjualan bijih nikel kadar rendah ke smelter yang ada.

Manajemen PAM Mineral juga telah menyiapkan rencana jangka menengah dan panjang. Ruddy memaparkan, NICL berencana akan menambah cadangan dengan cara mengakuisisi ataupun mencari tambang baru. Dengan demikian, pertumbuhan kinerja perseroan bisa lebih tinggi lagi ke depannya.

Baru-baru ini, PT PAM Mineral Tbk melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dengan melepas sebanyak dua miliar saham kepada publik. Besaran saham itu setara dengan 20,7% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan. Dengan harga IPO sebesar Rp 100 per saham, perseroan menerima dana segar Rp 200 miliar.

(fdl/fdl)