Indonesia Mau Pakai Teknologi Ini untuk Sulap Sampah Jadi Listrik, Sudah Tepat?

Siti Fatimah - detikFinance
Jumat, 06 Agu 2021 10:05 WIB
PLN Operasikan Gardu Induk 275 kV Sarulla-Padang Sidempuan
(istimewa)
Jakarta -

Saat ini pemerintah termasuk BUMN penyedia listrik, akan menggunakan teknologi Co-Firing untuk mengolah sampah sekaligus mendorong kontribusi pasokan energi terbarukan.

Faktanya mengolah sampah menjadi bahan bakar yang berkualitas tidaklah sederhana.
Saat ini sejak tahun 1970an teknologi ini diperkenalkan, Amerika Serikat hanya menyisakan sedikit boiler dengan metode co-firing.

Co-Firing adalah upaya mensubstitusi batu-bara dengan bahan bakar alternatif, yaitu sawdust, cangkang sawit, eceng gondok, dan yang dianggap paling kontroversial yaitu produk turunan sampah atau refused derived fuel (RDF).

Pakar dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), Putra Adhiguna mengatakan, pemerintah saat ini terbelenggu komitmen investasi PLTU Batubara dalam jangka panjang, dan metode Co-Firing di kemas sebagai solusi cepat permasalahan.

"Produsen tidak akan mampu memproduksi sampah menjadi refuse derived fuel (RDF) untuk bahan bakar tanpa harga yang memadai," kata dia ketika dihubungi wartawan, Rabu (4/8/2021).

Menurut dia, ada kelemahan teknologi co-firing seperti ada batasan kualitas dan kuantitas yang spesifik untuk penggunaan di PLTU. Kualitas bahan bakar Co-firing yang buruk dapat menurunkan performa PLTU, sementara untuk kualitas yang baik harganya akan lebih mahal dari batubara karena membutuhkan investasi peralatan yang berteknologi tinggi.

Bersambung ke halaman selanjutnya.