ADVERTISEMENT

Pertamina Resmi Kelola Blok Rokan, Mau Ngebor 161 Sumur Baru di 2021

Jihaan Khoirunnisaa - detikFinance
Senin, 09 Agu 2021 10:54 WIB
Blok rokan
Foto: dok. Pertamina
Jakarta -

Operasional Wilayah Kerja Rokan (WK Rokan) resmi beralih dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Chevron Pacific Indonesia (CPI) kepada KKKS Pertamina Hulu Rokan (PHR) mulai hari ini, Senin, 9 Agustus 2021 pukul 00.01. Seremoni Alih Kelola WK Rokan dilakukan secara hybrid, pada Minggu (8/8) di Pekanbaru dan Jakarta.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) sebagai induk usaha PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Nicke Widyawati mengatakan pengelolaan WK Rokan menjelang hari Kemerdekaan RI merupakan kebanggaan bagi Pertamina dan bangsa Indonesia. Hal ini juga wujud dukungan dari segenap bangsa Indonesia sehingga alih kelola berjalan dengan baik.

Untuk memastikan kelancaran proses alih kelola, Nicke mengatakan Pertamina melalui PHR juga telah membentuk Tim Transisi yang bertugas memastikan kelancaran operasi, terutama di aspek subsurface, operasi produksi, project and facility engineering, operasi K3LL, hingga ke aspek sumber daya manusia, finansial , komersial, asset supply chain management serta IT.

"Hal yang tidak kalah penting dalam proses alih kelola ini, kami mengingatkan kembali mengenai high risk pengelolaan usaha migas, tidak hanya proses keandalan tapi aspek HSSE (Health, Safety, Security and Environment) tetap menjadi perhatian kita semua," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Senin (9/8/2021).

Nicke meminta seluruh manajemen dan pekerja PHR untuk tetap fokus menjalankan amanah dan memberikan yang terbaik bagi negara, masyarakat dan bangsa melalui pengelolaan Blok Rokan agar dapat mewujudkan kemandirian dan kedaulatan energi Indonesia.

"Pertamina juga memiliki amanah lainnya, yaitu mendukung program pemerintah mencapai produksi minyak mentah satu juta barrel oil per day (BOPD) dan 12 miliar standard cubic feet per day (BSCFD) di tahun 2030. Oleh karenanya, selain kerja keras serta komitmen Pertamina, tentu juga diharapkan dukungan penuh dari Pemerintah Pusat dan daerah serta seluruh Stakeholder dan masyarakat untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut," ujarnya.

Nicke melanjutkan sampai dengan akhir tahun 2021 PHR merencanakan pengeboran 161 sumur baru, termasuk sisa sumur dari komitmen operator sebelumnya. Adapun untuk tahun 2022, PHR merencanakan pengeboran kurang lebih sebanyak 500 sumur baru.

"Komitmen ini menjadi komitmen investasi dan jumlah sumur terbesar di antara WK migas lain di Indonesia. Kegiatan pengeboran tersebut akan didukung dengan penyiapan tambahan 10 rig pemboran sehingga secara total tersedia 16 rig pemboran serta 29 rig untuk kegiatan Work Over & Well Service yang merupakan mirroring dari kontrak sebelumnya," kata dia.

Sementara itu, Managing Director Chevron IndoAsia Business Unit & Presiden Direktur PT. Chevron Pacific Indonesia, Albert Simanjuntak menyampaikan apresiasi kepada para pihak yang telah mendukung kelancaran masa transisi. Sehingga proses alih kelola berjalan mulus.

"Kami mengucapkan terima kasih atas kolaborasi yang telah terjalin selama masa transisi bersama SKK Migas dan Pertamina, sehingga alih kelola berjalan dengan selamat, andal dan lancar. Semoga WK Rokan dapat terus memberikan kontribusi terbaiknya kepada bangsa dan negara," ujarnya.

Sementara itu, Menteri ESDM, Arifin Tasrif mengatakan alih kelola pengelolaan WK Rokan menjadi salah satu tonggak sejarah industri hulu migas di Indonesia. Ia berharap Pertamina dapat meneruskan dan mengembangkan keberhasilan pengelolaan wilayah kerja tersebut yang sebelumnya dilakukan oleh CPI.

Arifin juga menyampaikan apresiasi kepada PT CPI karena telah mengelola wilayah kerja yang pertama kali ditemukan pada tahun 1941 itu dengan baik.

"Sejak pertama kali diproduksikan pada tahun 1951 hingga tahun 2021, WK Rokan merupakan salah satu wilayah kerja strategis yang telah menghasilkan 11,69 Miliar barel minyak. Terima kasih atas usaha-usaha yang telah dilakukan," katanya.

Diungkapkannya per akhir Juli 2021, rata-rata produksi WK Rokan sekitar 160,5 ribu barel setiap hari. Atau sekitar 24% dari produksi nasional, dan 41 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) untuk gas bumi. Arifin berharap, Pertamina Hulu Rokan dapat mendorong investasi yang masif sehingga produksi dari wilayah kerja tersebut dapat ditingkatkan.

"Ini harus menjadi komitmen Pertamina, mengingat WK Rokan merupakan salah satu WK terbesar di Indonesia yang bernilai strategis dalam memenuhi target produksi 1 juta BOPD dan 12 BSCFD pada tahun 2030 mendatang," lanjutnya.

Senada, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto juga menyampaikan terima kasih kepada PT CPI. Selain karena kinerja yang baik, ia juga memuji dukungan PT CPI kepada pengembangan sumber daya manusia Indonesia, serta pelaksanaan kegiatan CSR di Riau dan wilayah Indonesia lainnya. Dwi pun mengaku lega karena proses alih kelola berjalan dengan lancar.

"Dalam rangka mendukung capaian 1 juta BOPD pada tahun 2030, maka sejak 2 tahun lalu kami bekerja keras, mengusahakan agar alih kelola berjalan lancar dan tingkat produksi minyak pada akhir masa kontrak PT CPI dapat dipertahankan. Ini merupakan hal penting bagi bangsa dan negara mengingat WK Rokan saat ini masih mendukung 24% produksi nasional dan diharapkan tetap menjadi wilayah kerja andalan Indonesia," ujar Dwi.

Menurutnya, SKK Migas terus berupaya dalam mengawal alih kelola WK Rokan. Salah satunya melalui Head of Agreement (HoA) guna menjamin investasi PT CPI pada akhir masa kontrak. Hasilnya, sejak HoA ditandatangani pada 29 September 2020 hingga 8 Agustus 2021, telah dilakukan pemboran 103 sumur pengembangan. Selain pemboran, SKK Migas juga mengawal 8 isu lain yang menjadi kunci sukses alih kelola, di antaranya migrasi data dan operasional, pengadaan chemical EOR, manajemen kontrak-kontrak pendukung kegiatan operasi, pengadaan listrik, tenaga kerja, pengalihan teknologi informasi, perizinan dan prosedur operasi serta pengelolaan lingkungan.

"Kami berterima kasih atas dukungan berbagai pihak, termasuk kepada Pemda Riau, sehingga operasional WK Rokan pada masa transisi berjalan dengan baik," tuturnya.

Dwi mengatakan persiapan selama masa transisi dapat menjadi modal PHR untuk mengembangkan WK Rokan. Ke depan, diharapkan PHR bisa memaksimalkan potensi yang ada di wilayah kerja tersebut, antara lain melalui penerapan teknologi lanjutan.

Diketahui, kontrak baru WK Rokan yang menganut sistem PSC Gross Split merupakan suatu tantangan dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan. Oleh karena itu, Pertamina dituntut untuk tetap profesional dalam mengelola WK Rokan, serta meningkatkan investasi untuk dapat memaksimalkan produksi mengingat potensi WK Rokan yang masih cukup menjanjikan. Produksi WK Rokan diharapkan dapat mencapai 165 ribu barel per hari pada akhir tahun 2021 dengan tambahan sumur-sumur baru yang dibor tahun ini. Selanjutnya WK Rokan diharapkan tetap menjadi salah satu penghasil utama minyak nasional.

Lihat juga Video: Jokowi Resmikan RS Khusus Corona Pertamina di Tanjung Duren

[Gambas:Video 20detik]



(prf/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT