KIP Mulai Distribusi BBM Rendah Sulfur di Selat Sunda

Tim detikcom - detikFinance
Minggu, 29 Agu 2021 20:01 WIB
Kapal-kapal besar tampak melakukan aktivitas di perairan Pelabuhan Merak, Banten. Pelabuhan Merak adalah sebuah pelabuhan penyeberangan di Pulo Merak, Kota Cilegon, Banten yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Sumatra yang dipisahkan oleh (Selat Sunda/Gunung Krakatau).
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Sebagai tindak lanjut penandatanganan MoU Awal Agustus lalu, PT Krakatau Bandar Samudera (Krakatau International Port/KIP) realisasikan layanan bunkering BBM Low Sulphur Fuel OIL (LSFO) perdana di Selat Sunda dengan pengisian 160 Metrik Ton (MT) atau setara dengan 175.000 Liter ke kapal MV Elona pada Jum'at (27/8/2021) lalu.

Penjualan perdana ini disaksikan langsung oleh Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kemenko Marves Basilio Dias Araujo, CEO KIP M. Akbar Djohan dan Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga SH C&T Hasto Wibowo.

Bisnis maritim perdana Marine Fuel Oil (MFO) ini membuktikan strategi besar KIP untuk membangun ekosisistem bunkering migas sebagai strategi ekspansi dalam bisnis maritim di sepanjang Selat Sunda sangat berpotensi untuk direalisasikan.

"Salah satunya ekspansi ke penjualan produk BBM yang rendah sulfur untuk kapal," kata CEO KIP Akbar Djohan.

MFO dengan kandungan sulfur maksimal 0,5 persen mass by mass (m/m) ini merupakan bahan bakar kapal yang sesuai dengan mandatori International Maritime Organization (IMO) mengenai bahan bakar kapal dengan kadar sulfur maksimal 0,5% wt yang berlaku mulai 1 Januari 2020.

"Strategi ini tak hanya diproyeksikan untuk menambah profit kepada Krakatau Group, tapi ini akan memperkuat rantai pasok energi terutama migas di sepanjang Selat Sunda, dimana produk MFO dijadikan 'engine' baru perusahaan dalam mencapai growth yang lebih baik lagi," tambah Akbar Djohan.

Mencermati besarnya peluang ekonomi yang belum dioptimalkan selama ini terutama ribuan kapal baik ukuran besar dan kargo internasional yang melintas di sepanjang Selat Sunda, Akbar meyakini bahwa "economic and opportunity loss" akibat belum adanya jasa bunkering bahan bakar minyak untuk kapal-kapal niaga di Selat Sunda berpotensi besar untuk disinergikan dengan Pertamina Patra Niaga.

"Ini bentuk sinergi dan simbiosis mutualisme dalam rangka mendukung program pemerintah dalam mendorong produk-produk Pertamina dan memperkuat energy supply chains di Kawasan Pelabuhan Terintegrasi Krakatau" jelas Akbar Djohan dengan menegaskan bahwa komitmen KIP untuk menjadikan Selat Sunda sebagai pelabuhan strategis yang dapat melayani seluruh kebutuhan kapal dengan pelayanan berstandar internasional terus ditingkatkan dan dijaga.

"First bunkering ini bukti KIP terus berupaya kembangkan berbagai layanan yang semakin lengkap untuk penuhi kebutuhan pelayaran dan bisnis maritim di Indonesia, terutama di Selat Sunda, sehingga kapal yang lewat dan singgah di Selat Sunda mudah untuk isi bahan bakarnya dan logistic services lainnya," jelasnya.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

Selain bunkering Marine fuel Oil (MFO), KIP akan merealisasikan integrated port services dengan melengkapi fasilitas pelabuhannya seperti Port Reception Facility, ship chandler, first emergency call untuk kapal dan ABK terutama di masa pandemi COVID-19, dan crew change.

"Kami terus berupaya melengkapi layanan pelabuhan Krakatau International untuk menjadi integrated port services, (upaya) ini untuk penuhi target kami melayani 5.000 kapal di tahun 2026 nanti," tandas CEO Akbar Djohan.

Sementara itu Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga SH C&T Hasto Wibowo mengapresiasi kerjasama yang terjadi dengan KIP, karena hal ini sangat baik bagi terwujudnya kekuatan maritim Indonesia.

"Sinergi dengan KBS (Krakatau International Port/KIP-red) adalah langkah strategis untuk memperkuat Indonesia sebagai poros maritim khususnya di wilayah perairan strategis kita. Dengan hadirnya layanan Pertamina di titik strategis ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi negara serta yang terpenting mampu membuktikan untuk memberikan layanan terbaik di wilayah perairan strategis kita, kedepan, target Pertamina adalah mampu bersaing dengan negara tetangga lainnya dalam jasa layanan bunkering LSFO," pungkas Hasto.

Hal ini mendapatkan apresiasi dari Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kemenko Marves Basilio Dias Araujo, ia mengatakan terimakasih atas kerjasama yang dilakukan oleh KIP dan Pertamina Patra Niaga sehingga First Bunkring Services ini bisa cepat terealisasikan.

"Saya apresiasi kepada KIP dan Pertamina Patra Niaga atas terealisasinya First Bunkering ini dengan cepat. Kami yakin, kerja sama ini dapat meningkatkan penerimaan negara dan keuntungan luar biasa terutama untuk revenue negara, kesejahteraan masyarakat, dan yang terpenting Indonesia siap dan mampu untuk memberikan layanan jasa MFO di wilayah perairan strategis kita." tegasnya.

Saat ini KIP memiliki 17 jetty dengan beberapa fasilitas berstandar internasional, seperti pilotage & towage, mooring-unmooring, stevedoring, jetty management, dan integrated logistics services yang dapat melayani 800 kapal setiap tahunnya. KIP juga memiliki Continuous Ship Unloader (CSU) berkecepatan 1.300 ton/jam yang terintegrasi dengan gudang (integrated warehouse/IWH) dengan standar food grade. Secara total, KIP dapat melayani 25 juta ton barang curah per tahunnya dengan mengakomodasi kapal besar sampai 200.000 DWT.

(dna/dna)