Pemerintah Mulai Bor Cari Potensi 'Harta Karun Energi' di Sukabumi

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Jumat, 03 Sep 2021 12:42 WIB
Menteri ESDM Arifin Tasrif
Foto: Kementerian ESDM
Jakarta -

Pemerintah mulai melakukan pengeboran eksplorasi sumur panas bumi di WP Cisolok, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Pengeboran ini dilakukan untuk mengetahui potensi sumber daya panas bumi dilokasi tesebut.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan, pengeboran ini dilakukan perdana oleh pemerintah.

"Ini adalah satu momentum pertama, pertama kali ini pekerjaan tajak panas bumi dengan program slim hole yang dilakukan oleh pemerintah, intinya adalah untuk bisa mengidentifikasi sumber daya panas bumi yang ada di lokasi ini khususnya," katanya di lokasi pengeboran yang disiarkan secara online, Jumat (3/9/2021).

Dia mengatakan, Indonesia memiliki potensi panas bumi 23.000 MW. Namun, yang dimanfaatkan baru sekitar 2.100 MW.

Menurutnya, masih banyak yang harus dilakukan untuk memanfaatkan potensi tersebut. Apalagi, kata dia, dunia saat ini menuntut pemakaian energi bersih.

"Indonesia mempunyai potensi 23.000 MW geothermal seluruh Indonesia yang baru dimanfaatkan 2.100 MW masih banyak lagi yang harus kita lakukan, harus kita manfaatkan," ujarnya.

"Tuntutan dunia saat ini adalah menggunakan energi yang bersih menggantikan sumber energi fosil. Karena energi fosil menghasilkan emisi karbon yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim, temperatur dunia makin meningkat tiap tahun, sehingga menyebabkan pelelehan di sumber-sumber yang ada, dan ini akan menyebabkan peningkatan permukaan air laut," paparnya.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Tuntutan dunia itu harus direspons dengan baik. Arifin menuturkan, sebetulnya program ini ada di delapan lokasi. Namun, karena keterbatasan dilakukan di dua lokasi yakni Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Dia bilang, pekerjaan ini diharapkan selesai dalam waktu 2 hingga 3 bulan. Dengan adanya pengeboran ini diharapkan menghasilkan data-data yang akurat dan bisa menarik investor.

"Jadi sebagai disampaikan Pak Kepala Badan Geologi, pekerjaan ini akan memakan waktu kurang lebih 2 sampai 3 bulan. Dan 2-3 bulan itu kita bisa menghasilkan data-data yang lebih akurat dan ini akan bisa memastikan investor untuk bisa berinvestasi. Ini satu baru tahap awal," terangnya.

"Tujuannya adalah dengan data-data yang lebih clear, yang lebih jelas, ini akan memberikan kemudahan dari investor untuk bisa melakukan kajian-kajian keekonomiannya dan akan memberikan manfaat bahwa tarifnya akan lebih ekonomis," sambungnya.

(acd/ara)