Faisal Basri Ungkap Ada 'Kebocoran' Ekspor Bijih Nikel Rp 2,8 T ke China

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Selasa, 12 Okt 2021 15:21 WIB
Ekonom dan politikus
Foto: Muhammad Ridho
Jakarta -

Pemerintah telah melarang ekspor nickel ore atau biji nikel. Langkah tersebut dilakukan salah satunya bertujuan untuk menciptakan nilai tambah pada eskpor.

Namun, Ekonom Senior Universitas Indonesia Faisal Basri menemukan, ekspor bijih nikel itu masih terjadi. Dia memaparkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tidak ditemukan ekspor untuk bijih nikel pada tahun 2020.

"Tahun 2020 pemerintah melarang, berdasarkan data BPS tidak ada ekspor untuk kode HS 2604 nickel ore and concentrate," katanya dalam acara CORE Media Discussion, Selasa (!2/10/2021).

Namun, General Customs Administration of China mencatat tahun 2020 masih ada 3,4 juta ton impor dari Indonesia dengan nilai US$ 193,6 juta atau setara Rp 2,8 triliun.

"Kalau kursnya Rp 14.577 rata-rata JISDOR tahun 2020," katanya.

Dia mengatakan, potensi kerugian negara dari transaksi gelap atau illicit transaction ini bisa dihitung. Asal, kata dia, pemerintah punya niat.

"Nah ini mekanismenya bagaimana kalau pemerintah punya niat, gampang sebetulnya melacaknya. Jadi itung saja produksi smelter berapa, kemudain kebutuhan normal berapa, dia beli lebih banyak nggak, dia beli untuk proses produksi atau jangan-jangan ada sebagian dia jual ke luar walupun tidak boleh, numpang aja, menunggangi," paparnya.



Simak Video "Jokowi soal RI Digugat Uni Eropa Gegara Ekspor Nikel: Jangan Grogi!"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/zlf)