Negara Maju Pakai Batu Bara Lagi, Bahlil: Mereka Sok Green Energy

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 27 Okt 2021 13:30 WIB
Nadiem Makarim dan Bahlil Lahadalia resmi mengemban jabatan baru di Kabinet Indonesia Maju.
Foto: Pool/Rusman/Biro Pers Setpres
Jakarta -

Krisis energi memaksa negara-negara yang selama ini mendorong energi baru terbarukan kembali menggunakan energi fosil yang tidak ramah lingkungan. Hal itu disorot oleh Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia.

"Negara-negara sahabat kita yang lain yang jauh-jauh di sana itu kadang-kadang mereka merasa sok tentang green energy. Padahal mereka juga sekarang negara-negara yang katanya nggak boleh pakai batu bara, nggak boleh pakai fosil sekarang mereka krisis energi bikin lagi batu bara," katanya dalam konferensi pers virtual, Rabu (27/10/2021).

Lanjutnya, Indonesia mendukung dan mendorong energi yang ramah lingkungan, bahkan telah berkomitmen untuk mewujudkan nol emisi karbon (net zero emission/NZE) selambat-lambatnya di 2060.

"Jadi kita ini sebenarnya boleh mengikuti perkembangan dunia tapi jangan terlalu banyak kita menari di gendang orang. Kita tidak boleh banyak menari di gendang orang, kenapa? Kita negara yang berdaulat. Tapi kita juga dorong konsep global tentang green energy, itu setuju," sambungnya.

Di sisi lain, atas krisis energi yang melanda sejumlah negara menurut Bahlil menjadi peluang untuk mengundang investasi ke Indonesia. Sebab, Indonesia memiliki energi yang berlimpah, setidaknya di Pulau Jawa.

Bahlil menjelaskan krisis energi yang terjadi di sejumlah negara membuat tarif listrik di negara tersebut melonjak. Tentu saja hal itu akan membuat biaya produksi menjadi tinggi. Ujungnya harga pokok penjualan (HPP) akan naik di tingkat konsumen.

"Nah strategi yang kita bangun adalah kan energi kita sendiri kan oversupply sekarang. Kita data dari PLN untuk Jawa-Bali kita oversupply sekitar 2.300 MW maka ini adalah kesempatan/momentum untuk kita meminta kepada perusahaan-perusahaan yang ada di negara itu segera melakukan relokasi ke Indonesia, kenapa? agar harga pokok produksi mereka bisa rendah dan produknya bisa kompetitif," tambahnya.

Seperti diketahui sejumlah negara di Eropa saat ini tengah mengalami krisis energi yang cukup serius. Negara seperti Inggris, Spanyol, bahkan China hingga Singapura mengalami krisis energi karena sejumlah faktor, salah satunya pasokan bahan bakar fosil yang terbatas.

Simak juga Video: Jawa Barat Kembangkan Energi Alternatif Ramah Lingkungan

[Gambas:Video 20detik]



(toy/eds)