Pertamina Geber Pembangunan SPKLU di Tengah Serbuan Kendaraan Listrik

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Senin, 15 Nov 2021 11:16 WIB
Dua Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) diluncurkan di Jakarta. Salah satunya berlokasi di SPBU Pertamina 31.128.02 MT Haryono, Tebet.
Foto: Herdi Alif Al Hikam/detikcom

Isi Daya di SPKLU

SPKLU Pertamina yang bersinergi dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di MT Haryono, Jakarta memiliki tiga jenis stopkontak (socket) untuk mengisi daya baterai kendaraan listrik. Pertama berjenis CHAdeMO berkekuatan 50 kW, kemudian CCS 2 Combo berkekuatan 50 kW, dan AC Type 2 berkekuatan 43 kW.

Dua jenis kontak di antaranya digunakan untuk rapid charging pada kendaraan dengan sistem listrik DC. Yaitu, jenis socket CHAdeMo 50 kW dan CCS 2 Combo 50 kW. Sementara socket berjenis AC Type 2 43 kW digunakan untuk fast charging kendaraan dengan sistem listrik AC. SPKLU ini juga bisa melakukan pengisian daya untuk dua mobil sekaligus. Dengan catatan satu mobil sistem listrik DC dan satunya lagi sistem AC.

Pengguna kendaraan listrik hanya perlu memberi tahu petugas di SPKLU jika ingin mengisi daya baterai. Proses pengisian akan dibantu petugas sedangkan pemilik kendaraan menunggu hingga baterai penuh sekitar 30-60 menit. Sedangkan tarif pengisian daya baterai di SPKLU diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 13 Tahun 2020.

Dua Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) diluncurkan di Jakarta. Salah satunya berlokasi di SPBU Pertamina 31.128.02 MT Haryono, Tebet.Transformasi SPKLU Pertamina saat Serbuan Mobil Listrik dan Cara Tekan Emisi Foto: Herdi Alif Al Hikam

Tak cuma SPKLU, Pertamina juga memiliki inisiatif lain untuk menekan emisi karbon dengan ambil bagian pada ekosistem industri baterai kendaraan listrik. Pertamina menghitung kebutuhan dana US$ 3,2 miliar atau Rp 45,6 triliun (kurs Rp 14.270). Hal ini terlihat pada dokumen yang dipaparkan Direktur Keuangan Pertamina, Emma Sri Martini pada webinar Maret lalu.

Dalam dokumen tersebut, Pertamina berencana mendapatkan pendanaan untuk baterai mobil listrik dari Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA). Target proyek tersebut berjangka waktu 2022-2029.

Baca juga: Gandeng Grab, Pertamina Kembangkan SPKLU di Bandara Soetta

Teknologi Rendah Karbon

Sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Pertamina menggenjot transformasi ke arah green economy. Pertamina mengejar target pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) 29% pada 2030 dengan usaha sendiri, dan 41% dengan bantuan internasional.

Di sela KTT Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa di Glasgow, Skotlandia yang berlangsung 1-10 November 2021, Pertamina menggandeng ExxonMobil dalam penerapan teknologi rendah karbon dan Carbon Capture and Utilization and Storage (CCUS).

"Kolaborasi CCUS ini merupakan langkah untuk mewujudkannya. Kemitraan ini sangat penting untuk mengurangi efek gas rumah kaca dan meningkatkan kapasitas produksi gas minyak nasional," ujar Menteri BUMN Erick Thohir awal November.

Bersama ExxonMobil, Pertamina akan mengembangkan penerapan teknologi rendah karbon untuk mencapai emisi net-zero dalam mempromosikan global climate goals. Teknologi CCS diaplikasikan melalui penerapan proses injeksi CO2 ke dalam lapisan subsurface untuk diterapkan pada depleted reservoir di wilayah kerja Pertamina, serta mengkaji potensi skema hubs and cluster.

Pertamina Gandeng ExxonMobil Kembangkan Teknologi Rendah KarbonPertamina Gandeng ExxonMobil Kembangkan Teknologi Rendah Karbon Foto: Pertamina

Pertamina dan ExxonMobil juga akan mengkaji terkait berbagi data technical subsurface yang diperlukan untuk penilaian subsurface formation sebagai tempat menyimpan CO2 dan karakteristik di lokasi tertentu di Indonesia. Kedua perusahaan juga akan mengkaji terkait berbagi data infrastruktur termasuk data pipa, fasilitas dan sumur untuk mengevaluasi penggunaan ulang infrastruktur yang ada untuk transportasi.

Aplikasi teknologi ini juga dapat diterapkan pada produksi blue hydrogen yang dikombinasikan teknologi CCS. Aplikasi lainnya yang akan dikaji adalah CCUS yaitu pemanfaatan CO2 yang akan diubah menjadi produk bernilai tambah yang penerapannya dilakukan di industri hulu dan hilir migas.

Inisiatif yang dilakukan Pertamina untuk go green seperti penyediaan SPKLU dan upaya menekan emisi karbon diharapkan bisa mencapai target penurunan emisi karbon atau net zero emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat. Dengan demikian, dampak emisi ke perubahan iklim bisa ditekan semaksimal mungkin, sehingga bumi semakin sehat.


(ara/ara)