PLN Ungkap Manfaat Kendaraan Listrik: Tekan Impor BBM-Jadi Negara Maju

Nada Zeitalini - detikFinance
Kamis, 02 Des 2021 22:25 WIB
PLN
Foto: PLN

Manfaat lain yang bisa dirasakan masyarakat dalam penggunaan mobil listrik adalah penghematan biaya. Sebab, PLN saat ini menawarkan diskon 30 persen kepada pemilik mobil listrik yang mengisi daya baterainya di rumah, yakni menjadi Rp 1.100 per kilowatt hour (kWh).

"Setiap 1 KWh listrik setara 1 liter bensin, 1 KWh sama dengan 10 Km jalan. 1 banding 5, Rp 9.000 per liter BBM dengan hanya Rp 1.100 untuk per kWh, atau katakan Rp 1.500 kalau harga biasa. Artinya disamping menghemat CAD supaya tidak menyebabkan devisa kita tergerus juga nilai tukar kita tergerus karena harus baya, masyarakat juga ikut menikmati karena hemat tadi," imbuh Bob Saril.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Utama Kementerian Investasi Ikmal Lukman mengatakan Indonesia menjadi salah satu negara yang tak ingin ketinggalan mengembangkan kendaraan listrik di dalam negeri. Sebab beberapa negara telah mengumumkan kebijakan percepatan penggunaan kendaraan bertenaga listrik tersebut.

"Kemudian lain dari itu dari beberapa negara khususnya Amerika, Eropa China mereka berlomba-lomba membuat kebijakan bagi percepatan penggunaan dan produksi kendaraan listrik, jadi mereka memberikan suatu kebijakan yang kondusif bagaimana bisa mendorong tumbuhnya industri mobil listrik dan penggunaan mobil listrik bagi para penduduknya," kata Ikmal.

Ikmal juga menjelaskan Indonesia saat ini memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi peluang negara ini sebagai produsen baterai dan mobil listrik dengan menerapkan hilirisasi nikel, yang menjadi komponen dari mobil listrik.

"Kita ingin meningkatkan nilai tambah setiap komoditas yang kita punya sehingga dapat nilai tambah yang maksimal, ekosistem mulai dari pertambangan diproses menjadi katoda kemudian baterai cell kemudian diproses menjadi mobil listrik, mobil listriknya kita bangun di Indonesia," paparnya.

Di lain pihak, Sekretaris Gaikindo Kukuh Kumara menjelaskan pembangunan ekosistem mobil listrik perlu didukung dengan kebijakan yang dapat mengurangi harganya. Pasalnya, saat ini harga kendaraan listrik masih terbilang mahal. Sementara negara lain telah menerapkan kebijakan subsidi untuk menekan harga kendaraan listrik agar masyarakatnya beralih menggunakan kendaraan tersebut.

"Di mana pun juga kendaraan listrik mendapat subsidi dari pemerintahnya, di Tiongkok kami dapat informasi dari kolega subsidinya sekitar USD 15 ribu per unit, begitu juga di Korea Selatan. Ini saya pikir cukup berat dan harganya cukup tinggi, harga mobil listrik yang paling murah pun harganya Rp 600 juta. Nah masyarakat kita daya belinya masih di kisaran di bawah Rp 250 jutaan jadi ada jarak harga sekitar Rp 300 jutaan antara harga mobil listrik dengan harga yang diminati masyarakat kita," tuturnya.


(akn/dna)