BUMN Ikut Bisnis Mobil Listrik, Erick Thohir: Supaya Jangan Monopoli

Siti Fatimah - detikFinance
Sabtu, 11 Des 2021 18:45 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan akan memberikan kesempatan kerja sama kepada swasta dengan holding perusahaan pelat merah, Indonesia Battery Corporation (IBC).

Erick mengatakan, kesempatan tersebut terbuka untuk mengisi bagian-bagian kosong dalam membentuk ekosistem mobil listrik di Indonesia.

"Jadi saya sangat membuka kerja sama ini dengan banyak pihak karena ekosistemnya masih bolong dan ini baru diisi. Dan percayalah kita tidak memonopoli karena itu tetap kita beri kesempatan swasta untuk mengisi tapi BUMN juga mengisi," kata Erick saat menyampaikan Orasi Ilmiah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember dikutip dari YouTube ITS, Sabtu (11/12/2021).

Dia mengatakan, alasan BUMN tetap masuk agar tidak terjadi perubahan harga ketika kondisi pasar berubah. Sehingga, kondisi pasar seperti masker yang harganya melambung pada awal pandemi tidak terulang kembali.

"Jangan sampai nanti ketika pasarnya berubah, harganya berubah. Seperti dulu masker ketika sulit harganya ratusan ribu, BUMN mengintervensi dengan kimia farma harganya jadi Rp 5 ribu. Jadi jangan sampai baterai ini dimonopoli, bahan bakunya kita, diproses di luar negeri, baterainya lebih mahal daripada mobilnya. Padahal bahan bakunya dari kita," ujarnya.

Erick menjelaskan, awalnya pemerintah sudah menginisiasi kendaraan listrik pada 2013 lalu. Namun mengalami problem yaitu terpecah belah dan tidak ada kekompakan hingga akhirnya muncul lagi wacana tersebut di tahun ini.

Nampaknya, rencana itu bukan hanya isapan jempol belaka. Pasalnya BUMN membentuk IBC dengan penggabungan empat BUMN yaitu PLN, Pertamina, Mind Id Group dan Antam.

"Artinya apa? Kita punya tambang tapi kita tidak punya refinery bahan baku baterai, mobilnya nggak ada, motornya terima kasih ada dari ITS walaupun sahamnya ilang katanya. Ada ISS nya, ada battery swap-nya juga, ada charging station-nya tetapi battery recycling-nya belum ada," paparnya.

"Karena itu kita mengisi kekosongan itu dengan membikin IBC, kita paksa Korea dengan China untuk berpartner supaya jangan hanya ngambil nikelnya, harus bikin pabrik di sini, supaya membuka lapangan kerja dan pelan-pelan transfer knowledge," pungkasnya.

(eds/eds)