Bensin Premium Sepi Peminat? Netizen: Stoknya yang Nggak Ada!

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 21 Des 2021 12:00 WIB
Sejumlah kendaraan mengisi BBM premium, di SPBU Pejompongan, Jakarta, Jumat (16/01/2015). Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) turun lagi. Harga Premium diturunkan menjadi Rp 6.600/liter, sementara Solar menjadi Rp 6.400/liter. Harga baru ini berlaku mulai Senin (19/1/2015) pukul 00.00.
Bensin Premium
Jakarta -

Bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin premium (RON 88) tahun depan bakal berhenti beredar. Salah satu alasannya adalah bensin beroktan 88 ini sudah tidak banyak lagi orang yang pakai.

Mengutip data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), penyerapan bensin Premium selama Januari hingga November 2021 hanya 3,41 juta kilo liter (kl) atau sekitar 34,15% dari kuota Premium pada tahun ini sebesar 10 juta kl.

Proyeksi sampai akhir tahun pun diperkirakan hanya bertambah sekitar 248 kl. Dengan demikian proyeksi konsumsi bensin premium oleh masyarakat sepanjang tahun ini diproyeksi cuma sekitar 34,15% dari kuota 10 juta kl.

Namun menurut netizen, bukan konsumsinya yang berkurang tapi stok bensin premium yang dikurangi dan makin susah ditemui di SPBU.

Netizen ada benarnya juga. Pasalnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif pernah bilang bahwa penjualan BBM premium di outlet-outlet atau SPBU Pertamina memang sudah mulai dikurangi secara pelan-pelan.

"Terkait dengan roadmap BBM saat ini sesuai dengan program Langit Biru Pertamina, outlet penjualan premium mulai dikurangi pelan-pelan terutama kemarin pada saat pandemi di mana harga crude (minyak mentah) jatuh. Nah (premium) ini memang bisa dilakukan substitusi dengan pertalite," kata Arifin beberapa waktu lalu.

Tujuan bensin premium dikurangi adalah untuk memperbaiki kualitas bahan bakar dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Indonesia sekarang masih termasuk empat negara di dunia yang masih menggunakan premium.

"Nah ke depannya memang kita harus menuju energi yang lebih bersih dan kita tertinggal dengan Vietnam. Kita masih (standar) Euro 2, Vietnam sudah Euro 4 dan akan masuk ke Euro 5. Juga (dibandingkan) negara-negara Asean tetangga kita, kita ketinggalan," jelas Arifin.



Simak Video "Waka Komisi VII DPR Minta Subsidi Elpiji Naik Jika Premium Dihapus"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/ang)