Nah Lho! Gara-gara Perang Rusia-Ukraina, Orang Inggris Beli Bensin Lebih Mahal

ADVERTISEMENT

Nah Lho! Gara-gara Perang Rusia-Ukraina, Orang Inggris Beli Bensin Lebih Mahal

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 08 Mar 2022 11:06 WIB
Petrol pumps out of use at a petrol station in London, Wednesday, Sept. 29, 2021. Prime Minister Boris Johnson sought to reassure the British public Tuesday that a fuel-supply crisis snarling the country was “stabilizing,” though his government said it would be a while before the situation returns to normal. Johnsons government has put army troops on standby to help distribute gasoline and help ease a fuel drought, triggered by a shortage of truck drivers, that has drained hundreds of pumps and sent frustrated drivers on long searches for gas. (AP Photo/Frank Augstein)
Foto: AP/Frank Augstein
Jakarta -

Harga bensin di Inggris naik tajam akibat harga minyak dunia meroket di tengah kekhawatiran guncangan ekonomi global dari invasi Rusia ke Ukraina.

Minyak dunia sempat melonjak ke US$ 139 per barel, merupakan level tertinggi selama hampir 14 tahun. Itu terjadi ketika Amerika Serikat (AS) mengisyaratkan larangan membeli energi dari Rusia. Namun, para pemimpin Eropa menolak gagasan itu pada hari Senin.

Setelah bertengger di US$ 139,13 per barel pada Senin pagi, harga minyak mentah Brent sebagai patokan internasional turun kembali ke area US$ 125.

Dapat diketahui gejolak pasar memicu kekhawatiran bahwa harga barang sehari-hari mulai dari makanan hingga bensin dan pemanas yang sudah naik dengan cepat, dapat melambung lebih tinggi lagi.

Rusia merupakan produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia dan memasok sekitar sepertiga dari kebutuhan Eropa. Harga minyak mentah Brent naik lebih dari seperlima pada pekan lalu di tengah kekhawatiran pengurangan pasokan dari Rusia.

Harga bensin terbaru di Inggris telah menyentuh lebih dari £7 per galon atau setara 4,5 liter. Mengisi bensin untuk mobil dengan tangki 55 liter sekarang lebih mahal £17, naik dari £68,60 menjadi £85,59.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken pada hari Minggu mengatakan pemerintahan Presiden AS Joe Biden dan sekutunya sedang membahas larangan pasokan minyak Rusia. Komentar itu muncul saat tekanan meningkat di Gedung Putih dan negara-negara Barat lainnya untuk mengambil tindakan lebih keras terhadap Rusia atas invasinya ke Ukraina.

Embargo minyak Rusia akan menjadi eskalasi besar dalam menanggapi invasi di Ukraina dan berpotensi berdampak besar pada ekonomi global. Namun, beberapa negara Eropa menolak langkah AS mengingat ketergantungan mereka pada pasokan energi Rusia.

"Sementara AS mungkin hanya mendorong larangan impor minyak Rusia, Eropa tidak mampu melakukan hal yang sama. Lebih mengkhawatirkan, (Presiden Rusia Vladimir) Putin, dengan membelakangi tembok dapat mematikan pasokan gas ke Eropa, memotong jalur energi benua itu," kata Vandana Hari di perusahaan analisis pasar minyak Vanda Insights.

Baru-baru ini raksasa energi Shell membela keputusannya untuk membeli minyak mentah Rusia meskipun ada invasi ke Ukraina. Perusahaan mengatakan terpaksa membeli minyak dari Rusia untuk menjaga pasokan bahan bakar tepat waktu ke Eropa.

"Agar jelas, tanpa pasokan minyak mentah yang tidak terputus ke kilang, industri energi tidak dapat menjamin kelanjutan penyediaan produk-produk penting bagi orang-orang di seluruh Eropa selama beberapa minggu ke depan," tambah seorang juru bicara.

Kemungkinan larangan membeli minyak Rusia telah meningkatkan tekanan untuk menemukan pasokan alternatif. AS minggu ini diperkirakan akan menekan Arab Saudi untuk meningkatkan produksi minyak mentah, dan ada dorongan baru untuk kesepakatan atas ambisi nuklir Iran yang akan mencabut sanksi terhadap ekspor minyaknya.

Simak video 'Inggris Proses Ribuan Visa Pengungsi Ukraina':

[Gambas:Video 20detik]



(toy/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT