TotalEnergies Ogah Bisnis Bareng Putin tapi Tolak Hapus Asetnya di Rusia

Kholida Qothrunnada - detikFinance
Minggu, 27 Mar 2022 21:00 WIB
French climber Alain Robert, known as Spiderman, and climbers Marcin Banot, from Poland, Frances Alexis Landot and Leo Urban, celebrate climbing the 187-meters (613-foot) TotalEnergies tower in La Defense business district outside Paris, Tuesday, Sept.7, 2021. (AP Photo/Rafael Yaghobzadeh)
Foto: AP/Rafael Yaghobzadeh
Jakarta -

CEO TotalEnergies Patrick Pouyanne mengatakan penolakan perusahaan untuk sepenuhnya keluar dari Rusia. Dia juga menambahkan bahwa pihaknya, tidak akan bekerja sama dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Dikutip dari CNBC Internasional, Minggu (27/3/2022), Patrick mengatakan dirinya tidak siap untuk menghapus aset perusahaan di Rusia, karena itu berarti memberikan asetnya kepada Putin "secara gratis."

"Apa yang kita lakukan dengan aset yang ada?... Saya tidak siap untuk memberikannya kepada orang-orang Rusia, kepada konglomerat Rusia.. itu akan bertentangan dengan sanksi. Aset-aset ini ada di sana, saya tidak akan memberikannya secara gratis kepada Tuan Putin," katanya pada forum diskusi yang dimoderatori CNBC di Doha, Qatar.

TotalEnergies Minggu ini mengatakan, bahwa mereka tidak akan menyediakan modal untuk proyek-proyek baru di Rusia lagi. Tidak hanya itu, pihaknya juga tidak akan memperbarui kontrak pasokan minyak bumi dan minyak mentah Rusia.

"Kami benar-benar menentang dengan tegas, dan mengutuk agresi Rusia terhadap Ukraina," tegas Pouyanne.

Dalam sebuah pernyataan pada Selasa (22/3), TotalEnergies mengatakan telah meninggalkan kepentingan itu tanpa melalui pertimbangan, yang akan memperkaya investor Rusia. Hal itu dilakukan karena bertentangan dengan tujuan sanksi.

Perusahaan Prancis juga telah menghadapi kritik, atas penolakannya untuk menghapus aset minyak dan gasnya di Rusia. Contohnya, saham dari produsen gas Rusia Novatek dan Yamal, serta saingannya Shell dan BP.

Shell dilaporkan menghadapi kerugian aset sebesar US$ 3 miliar di Rusia, sementara BP juga bisa mengalami penurunan nila mencapai US$ 25 miliar.

Menanggapi rencana keluar dari perusahaan energi pesaingnya, Pouyanne mengatakan dirinya akan melakukan apa yang dirinya inginkan. Tetapi, Ia juga menambahkan bahwa dirinya tidak tahu bagaimana mereka berencana untuk keluar dari Rusia tanpa melanggar sanksi.

"Saya ingin rekan-rekan saya menjelaskan kepada saya, bagaimana mereka akan melakukannya," ujar Pouyanne.

Ia menambahkan bahwa sanksi dan undang-undang Rusia, membuat perusahaan dicegah untuk menemukan pembeli non-Rusia untuk aset-aset ini.

(dna/dna)