Jeng-jeng! Biden Mau Banjiri Minyak, Bisa Gantikan Pasokan Rusia?

Trio Hamdani - detikFinance
Jumat, 01 Apr 2022 10:06 WIB
Presiden AS Joe Biden mengutuk bom bunuh diri yang terjadi di Kabul, Afghanistan. Ia berjanji buru dalang utama bom bunuh diri yang tewaskan 12 tentara AS itu.
Presiden AS Joe Biden/Foto: AP Photo/Evan Vucci
Jakarta -

Harga minyak dunia turun tajam. Hal itu dilatarbelakangi oleh Amerika Serikat (AS) yang berencana melepaskan cadangan minyak mentah dalam jumlah besar untuk mengurangi tekanan menyusul invasi Rusia ke Ukraina.

Presiden AS Joe Biden sedang mempertimbangkan untuk melepaskan sekitar 1 juta barel per hari selama beberapa bulan. Demikian dikutip dari CNN, Jumat (1/4/2022).

Atas informasi tersebut, minyak mentah berjangka Brent sebagai patokan global turun 6% pada awal perdagangan, jatuh di bawah US$ 107 per barel. Minyak AS terakhir diperdagangkan mendekati US$ 102 per barel.

Harga juga turun baru-baru ini karena ekspektasi permintaan yang lebih rendah dari importir utama, China karena negara itu memberlakukan pembatasan baru di kota-kota besar seperti Shanghai untuk memerangi penyebaran COVID-19.

Setelah melonjak di atas US$ 139 per barel pada awal Maret, Brent berjangka telah turun tajam. Harganya sekarang terkoreksi lebih dari 20% dari level tersebut.

Tambahan pasokan dan berkurangnya permintaan seharusnya akan mendorong harga terus menurun dalam waktu dekat. Tetapi ada skeptisisme bahwa memanfaatkan cadangan strategis akan mengubah dinamika pasar yang mendasarinya dalam jangka waktu yang lebih lama.

"Secara konseptual, rilis seperti itu akan membantu pasar minyak," kata ahli strategi Goldman Sachs, Damien Courvalin.

"Namun, ini akan tetap menjadi pelepasan persediaan minyak, bukan sumber pasokan yang terus-menerus untuk tahun-tahun mendatang," sambungnya.

Berlanjut ke halaman berikutnya.