Terpopuler Sepekan

Respons Ahok soal Pertalite Diserbu karena Pertamax Mahal

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 02 Apr 2022 12:15 WIB
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Foto: dok. Pertamina
Jakarta -

Pemerintah telah mengumumkan harga baru BBM jenis Pertamax menjadi Rp 12.500 untuk RON 92. Dengan tingginya harga ini, dikhawatirkan konsumen beralih dari menggunakan Pertamax ke Pertalite dan membuat subsidi dari APBN menjadi tidak tepat sasaran.

Sebelumnya pemerintah juga telah menjadikan Pertalite sebagai BBM Khusus Penugasan yang harganya dibanderol Rp 7.650 per liter. Begini respons Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok atas kekhawatiran tersebut.

"Ya direksi sudah ada cara atasi," katanya kepada detikcom. Ahok mengonfirmasi, kenaikan ini sudah mempertimbangkan risiko migrasi tersebut. "Ya benar," ujarnya.

Masalah peralihan penggunaan Pertamax ke Pertalite ini disinggung Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), M Chatib Basri. Menurutnya, ada risiko perpindahan konsumen BBM RON 92 itu ke jenis BBM yang lebih murah dalam hal ini Pertalite bila kenaikan harga Pertamax jadi diterapkan.

"Bisa terjadi migrasi dari Pertamax ke Pertalite," cuit Chatib dalam akun resminya.

Peralihan ini, lanjut dia, dipicu oleh adanya selisih harga yang cukup jomplang antara dua jenis BBM yang dijual PT Pertamina (Persero) tersebut.

"Pertamax naik ke Rp 16 ribu, Pertalite tetap di Rp 7.650," jelasnya.

Bila peralihan itu terjadi, lanjut Chatib, ada efek lanjutan yang mungkin ditimbulkan yang pada akhirnya memicu peningkatan beban negara. Efek lanjutan yang dimaksud adalah, peralihan konsumen Pertamax ke Pertalite akan membuat permintaan Pertalite melonjak drastis.

Padahal, Pertalite diputuskan menjadi BBM penugasan yang artinya harga BBM ini disubsidi pemerintah. Lonjakan permintaan akan memaksa pemerintah menambah alokasi dana untuk mensubsidi harga BBM RON 90 ini.

(kil/eds)