Awas! Wacana Kenaikan Harga Bisa Bikin Elpiji 3 Kg Langka

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 10 Apr 2022 21:45 WIB
Pekerja tengah menurunkan gas LPG 3 Kilogram di kawasan Jakarta Selatan, Senin (3/1/2021). Skema distribusi Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram (kg) bersubsidi akan diubah oleh pemerintah mulai tahun ini. Perubahan ini dilakukan karena selama ini distribusi LPG 3 kg dinilai tidak tepat sasaran.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Wacana kenaikan Elpiji 3 kilogram dan BBM Pertalite mengemuka. Harga dua komoditas energi ini disebut bakal naik secara bertahap tahun ini.

Ekonom dan Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mewanti-wanti wacana ini bisa menimbulkan kelangkaan Elpiji 3 kilogram di masyarakat.

Pasalnya, karena kekhawatiran kenaikan harga, masyarakat bisa saja mengantisipasinya dengan melakukan pembelian Elpiji 3 kg dalam jumlah besar. Dengan begitu, kelangkaan bisa saja terjadi di tengah wacana kenaikan harga ini.

"Kalau tidak hati-hati bisa sebabkan panic buying karena masyarakat antisipasi dengan membeli dalam jumlah besar sebelum kebijakan kenaikan LPG dilakukan. Risiko kelangkaan Elpiji 3 kilogram sebagai konsekuensinya," ujar Bhima kepada detikcom, Minggu (10/4/2022).

Menurutnya, bila Elpiji 3 kilogram akan naik, masyarakat tidak punya pilihan lain untuk membeli barang subsidi dengan harga yang mahal. Apalagi sudah ada kenaikan pada Elpiji non subsidi yang membuat banyak penggunanya beralih ke Elpiji 3 kilogram.

Di sisi lain, pengamat energi dan juga Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan seharusnya skema subsidi Elpiji 3 kilogram dibuat secara tertutup. Artinya, subsidi bukan lagi kepada barang namun orang.

Dengan begitu, subsidi untuk Elpiji 3 kilogram diberikan hanya untuk orang-orang tertentu yang memang berhak mendapatkannya.

"Harusnya subsidi ini jangan lagi kepada barang, tapi langsung kepada orang. Subsidi tetutup, buat aturan jelas dan tegas untuk subsidi ini. Misalnya, Elpiji, masyarakat yang sudah terdaftar bisa beli langsung ke SPBU," ungkap Mamit kepada detikcom.

Selama ini, skema subsidi seperti itu dikhawatirkan tidak berjalan dengan baik karena masalah data penerimanya. Tapi, menurut Mamit, ada data yang paling akurat untuk memberikan subsidi energi. Data itu adalah data penerima subsidi listrik 450-900 VA.

"Datanya itu paling bagus menurut saya itu data dari PLN. Karena kan dia ada program 450-900 VA yang subsidi ini kan penerimanya benar-benar orang bawah nih ya, ada petugas yang kontrol juga. Artinya, ini benar-benar orang yang layak mendapatkan subsidi," ungkap Mamit.

(hal/dna)