ADVERTISEMENT

Limbah Batu Bara 'Disulap' Jadi Bata hingga Pupuk

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 20 Apr 2022 18:47 WIB
Pengolahan limbah Fly Ash dan Bottom Ash (FABA)
Foto: Dok. PLN (Persero): Pengolahan limbah Fly Ash dan Bottom Ash (FABA)
Banten -

PLTU Suralaya memanfaatkan sisa pembakaran batu bara atau Fly Ash dan Bottom Ash (FABA). Pemanfaatan digunakan untuk berbagai hal mulai dari pengecoran jalan, bahan pembangunan rumah, hingga jalan tol.

General Manager PT Indonesia Power Suralaya Power Generation Unit (PGU) Rachmad Handoko mengatakan rata-rata FABA yang dihasilkan PLTU Suralaya adalah 600.000 ton per tahun. Mereka diolah menjadi aneka bahan bangun mulai dari batako, paving block, beton pemecah ombak, hingga campuran semen.

"Sehari PLTU Suralaya mengkonsumsi 40.000 ton (batu bara), maka FABA yang dihasilkan PLTU Suralaya kurang lebih 600.000 ton," kata Rachmad di PLTU Suralaya, Banten, Rabu (20/4/2022).

Selain itu, FABA yang dihasilkan PLTU Suralaya juga sedang didorong untuk menghasilkan bata merah. Hal ini diyakini bisa mengurangi penggunaan tanah merah dan pembakarannya lebih singkat.

"Kita sedang cari supaya kekerasannya memenuhi standar sehingga orang tidak lagi menggunakan tanah (merah). Kita belum berani (gunakan) karena sedang masuk uji supaya kekerasannya sama dengan bata yang menggunakan tanah merah," imbuhnya.

Selain memanfaatkan FABA untuk sektor konstruksi, anak usaha PT PLN (Persero) itu juga sedang menjajaki kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menjadikan FABA sebagai pupuk. Limbah padat batu bara itu disebut memiliki kandungan mineral yang baik untuk tanaman sehingga cocok menjadi pupuk.

Sejauh ini, aneka produk olahan FABA masih berskala program tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan dengan membangun rumah penduduk menggunakan batako berbahan campuran FABA.

"2021 sifatnya CSR, 2022 kami harapkan bisa masuk komersial. Tentunya penjajakan pasar kan nggak semudah itu," tuturnya.

(aid/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT