Pertamina & Air Liquide Kembangkan Teknologi CCU di Kilang Balikpapan

Nada Zeitalini Arani - detikFinance
Selasa, 17 Mei 2022 21:48 WIB
Pertamina dan Air Liquide
Foto: Pertamina
Jakarta -

Pertamina dan Air Liquide Indonesia sepakat melakukan kerja sama mengembangkan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) di Unit Pengolahan Kilang Balikpapan. Hal ini merupakan bentuk komitmen Pertamina dalam mengimplementasikan aspek Environment Social and Governance (ESG) serta mendukung penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Kesepakatan kerja sama ini diwujudkan dalam penandatanganan Joint Study Agreement (JSA) oleh Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dan President Director of PT Air Liquide Indonesia Marloes Moerman di Paris, Prancis, Selasa (17/5).

Dalam kerja sama itu, Pertamina dan Air Liquide akan melakukan studi bersama penerapan teknologi penangkapan CO2 Syngas dan Flue Gas dari produksi Hidrogen di area Kilang Balikpapan. Emisi CO2 yang telah ditangkap akan dikompresi dan dialirkan ke area penyimpanan CO2 yang potensial.

Sebagian CO2 juga akan dikonversi menjadi produk bernilai tambah Methanol yang selanjutnya dapat dicampurkan dengan bahan bakar minyak untuk produksi bahan bakar rendah karbon.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan penerapan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) merupakan salah satu inisiatif untuk mengurangi emisi karbon dari fasilitas kilang Pertamina sekaligus menjadi solusi peningkatan produksi migas di era transisi energi.

"Saat ini transisi energi merupakan isu prioritas. Pertamina telah memainkan peran penting dalam memimpin transisi industri energi Indonesia," ujar Nicke dalam keterangan tertulis, Selasa (17/5/2022).

Nicke menargetkan Pertamina mampu menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 30% dan meningkatkan bauran energi terbarukan dari 9,2% pada 2019 menjadi 17,7% pada 2030.

"Kami berharap dengan ditandatanganinya JSA antara Pertamina dan Air Liquide ini akan membawa dampak positif bagi percepatan implementasi teknologi rendah karbon serta penyediaan Low Carbon Energy Resilience di Indonesia," ujar Nicke.

Melalui kerja sama ini, Nicke berharap mampu mempercepat penerapan green technology dalam menyediakan energi rendah karbon sekaligus menjaga perubahan iklim global.

Sementara itu, Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansury mengatakan pemerintah telah berkomitmen mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dan emisi Net Zero pada tahun 2060. Komitmen tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 98 tahun 2021 dan diterjemahkan ke dalam 48 aturan turunan dan beberapa aturan lainnya sedang disusun.

"Kementerian BUMN telah berkomitmen untuk memulai dekarbonisasi dan secara aktif memimpin agenda dekarbonisasi dengan 3 pilar inisiatif, reduce end-to-end emission, build adjacent businesses, dan explore step-out opportunities," ujar Pahala.

Inisiatif ini memiliki target agresif yakni mengurangi sekitar 85 juta ton CO2 per tahun atau berkontribusi sebesar 10% pada National Determined Contribution di tahun 2030.

"Penerapan teknologi CCUS dapat meningkatkan produksi minyak dan gas sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan," ungkapnya.

Hadir dalam penandatanganan kerja sama ini Wakil Menteri BUMN I, Pahala Nugraha Mansury; Group CEO Air Liquide, Fran├žois Jackow; dan VP for European and International Affairs, Laurent Dublanchet.

(ncm/hns)