Harga Batu Bara Naik, 6 Konglomerat Ini Jadi Makin Tajir

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 25 Mei 2022 19:30 WIB
Sebuah kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (14/1/2022). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan target produksi batu bara 2022 mencapai 663 juta ton yang diperuntukkan untuk konsumsi domestik/domestik market obligation (DMO)  sebesar 165,7 juta ton sedangkan sisanya 497,2 juta ton akan mengisi pasar ekspor. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/rwa.
Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI
Jakarta -

Harga batu bara diperkirakan akan kian melesat berkat tingginya permintaan dari India dan Eropa. Harga batu bara diperkirakan masih akan melambung dan bertahan di level US$ 400 per ton pada pekan ini.

Melansir dari CNBC Indonesia, pada pekan lalu harga batu kontrak Juni di pasar ICE Newcastle (Australia) ditutup di US$ 421,15 per ton. Menguat 16,4% dalam sepekan. Kenaikan ini jauh lebih besar dibandingkan penguatan pada pekan sebelumnya yakni 0,9%.

Kenaikan harga komoditas ini tentu akan berimplikasi positif pada kinerja emiten pertambangan batu bara. Reli panjang penguatan harga batu bara telah tercermin pada laporan keuangan emiten batu bara nasional yang ramai-ramai membukukan peningkatan pendapatan dan kinerja laba yang fantastis.

Berdasarkan laporan dari tim riset CNBC Indonesia, berikut beberapa pihak yang diuntungkan dari kenaikan harga batu bara dunia:

1. Kiki Barki

Salah satu pengusaha nasional yang hartanya melejit karena reli harga batu bara tahun ini adalah Keluarga Barki, pemilik emiten pertambangan batu bara PT Harum Energy Tbk (HRUM).

Menurut laporan keuangan perusahaan yang terbit di situs Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan emiten yang ia kendalikan mencatatkan pertumbuhan pendapatan hingga 114% menjadi US$ 336,17 juta (Rp 4,82 triliun) dari semula hanya US$ 157,82 juta.

Pendapatan yang meningkat drastis mendorong kinerja laba bersih yang sepanjang tahun lalu meningkat 25,71% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$ 74,30 juta atau setara dengan Rp 1,06 triliun, dari laba bersih US 59,14 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Tahun lalu, nama Kiki Barki akhirnya muncul kembali dalam daftar 50 orang terkaya RI setelah absen tujuh tahun. Kekayaan bersihnya tahun lalu ditaksir mencapai US$ 1,6 miliar atau setara dengan Rp 22,96 triliun (kurs Rp 14.350/US$) dan bertengger di posisi 27 orang terkaya di Indonesia.

Sedangkan menurut data real time yang juga dikumpulkan oleh Majalah Forbes, kekayaan Kiki Barki saat ini kembali meningkat dari akhir tahun lalu dengan angkanya ditaksir mencapai US$ 2 miliar (Rp 28,7 triliun).

Senada dengan pendapatan dan laba yang meningkat, harga saham HRUM juga mengalami kenaikan signifikan. Meski sejak awal tahun sahamnya 'hanya mampu' naik 16,46%, akan tetapi dalam setahun terakhir saham perusahaan ini telah meningkat 123%.

2. Low Tuck Kwong

Dato' Dr. Low Tuck Kwong, dilahirkan di Singapura 17 April 1948 dan berganti kewarganegaraan menjadi WNI pada 1992 memperoleh pundi-pundi dari kepemilikan saham di PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Titik balik kesuksesannya terjadi pada tahun 1997 ketika ia mengakuisisi tambang batu bara pertamanya yaitu PT Gunungbayan Pratamacoal.

BYAN merupakan emiten batu bara dengan kapitalisasi terbesar di bursa domestik. Tercatat kapitalisasi pasarnya saat ini mencapai Rp 145 triliun, lebih besar dari Adaro Energy - tanpa memperhitungkan Adaro Minerals - ataupun emiten tambang batu bara pelat merah PTBA.

Akhir tahun lalu, Majalah Forbes menempatkan Low Tuck Kwong di posisi ke-18 orang terkaya di Indonesia dengan harta bersih ditaksir mencapai US$ 2,55 miliar.

Akan tetapi hingga Rabu (6/4), menurut data real time billionaire dari publikasi yang sama, harta Low Tuck kini menyentuh US$ 4 miliar atau bertambah Rp 20,80 triliun (US$ 1,45 miliar) dalam satu kuartal. Saat ini ia tercatat sebagai orang terkaya keenam di Indonesia.

Adapun saham yang dimiliki sepanjang tahun ini telah tumbuh lebih dari 60%, sedangkan dalam setahun terakhir harganya telah melonjak hingga 240%.

3. Boy Thohir, TP Rachmat dan Edwin Soeryadjaya (Kongsi Adaro)

Saudara menteri BUMN RI, Garibaldi Thohir bersama TP Rachmat dan Edwin Soeryadjaya mendirikan emiten raksasa PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), yang ketika pertama kali melantai di bursa tahun 2008 silam berhasil memperoleh dana IPO terbesar sepanjang sejarah yang baru-baru ini rekornya dipecahkan oleh Bukalapak.

Lokasi penambangan Adaro tersebar di Pulau Sumatra dan Kalimantan, selain itu terdapat juga situs penambangan berlokasi di Australia yang baru diakuisisi tahun 2018 lalu.

Beberapa perusahaan pertambangan di bawah Adaro Group antara lain PT Mustika Indah Permai (MIP), PT Bukit Enim Energi (BEE), Adaro Metcoal Companies (AMC), PT Bhakti Energi Persada (BEP) dan banyak lagi.

Data real time billionaire Forbes mencatat TP Rachmat sebagai taipan terkaya nomor 12 di Indonesia dengan total kekayaan mencapai US$ 2,00 miliar atau setara dengan Rp 28,6 triliun.

Akhir tahun lalu, Majalah Forbes menempatkan Boy di posisi ke-17 orang terkaya di Indonesia dengan harta bersih ditaksir mencapai US$ 2,6 miliar.

Saat ini tentu hartanya terus bertambah, mengingat salah satu perusahaan yang dimiliki ikut melantai dan mencatatkan kinerja saham terbaik di bursa. Adaro Minerals sahamnya tercatat telah naik 2.390% sejak pertama kali diperdagangkan publik.

Sementara itu Adaro Energy (ADRO) sahamnya telah naik 35% sejak awal tahun ini dan melonjak hingga 140% dalam setahun terakhir.

4. Keluarga Bakrie

Grup Bakrie tercatat memiliki bisnis di hampir semua sektor penting perekonomian. Gurita bisnis Grup Bakrie mencakup bisnis pertambangan, energi, infrastruktur, jasa keuangan, kesehatan, telekomunikasi, media, perkebunan hingga teknologi.

Roda bisnis bidang pertambangan milik Grup Bakrie dilaksanakan oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang mana ketiga anak Nirwan Bakrie yang baru-baru ini dipanggil satgas BLBI menjabat posisi penting di Grup Bumi, mulai dari jabatan presiden direktur hingga anggota komisaris.

BUMI mengendalikan dua raksasa tambang batu bara Tanah Air yakni PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia. Hingga akhir kuartal ketiga tahun lalu pendapatan BUMI meningkat 13% menjadi US$ 666,18 juta, sedangkan perusahaan mampu memperoleh laba bersih US$ 63,70 juta dari semula mengalami kerugian US$ 137,25 juta pada akhir September 2020 lalu.

5. Luhut Binsar Pandjaitan

Selain yang telah disebutkan di atas masih terdapat beberapa konglomerasi besar penguasa industri batu bara nasional, seperti Grup Sinarmas milik Keluarga Widjaja yang juga memiliki usaha tambang batu bara yang berlokasi di Berau, Kalimantan Timur yang bisnisnya dijalankan oleh PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS).

Beberapa pemain besar lainnya termasuk PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang sepanjang 2022 sahamnya menguat 33%, hingga emiten milik Luhut Binsar Pandjaitan, TBS Energi Utama Tbk (TOBA) yang dalam setahun terakhir sahamnya telah menguat hingga 130%.

Catatan redaksi: sebelumnya terdapat nama Patrick Walujo yang memiliki PT Delta Dunia Makmur Tbk melalui Northstar Group. Namun sejak 2020, Northstar Group diketahui sudah tidak memiliki kepemilikan pada PT Delta Dunia Makmur Tbk.

(fdl/fdl)