Ongkos BBM 'Rumah Berjalan' di AS Makin Mahal, Kok Tetap Banyak yang Pakai?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 20 Jun 2022 10:41 WIB
A customer pumps gas at a Shell gas station, Tuesday, May 10, 2022, in Miami. (AP Photo/Marta Lavandier)
Foto: AP Photo/Marta Lavandier
Jakarta -

Orang-orang di Amerika Serikat sedang keranjingan mobil RV alias kendaraan rekreasi (recreational vehicles). Mobil yang juga bisa menjadi 'rumah berjalan' ini banyak digunakan meskipun harga bahan bakarnya sedang meroket.

Dane Lee seorang pemilik RV mengatakan untuk mengisi penuh tangki diesel 150 galon di RV mereka bisa menghabiskan uang hampir US$ 900 atau sekitar Rp 13,3 juta (kurs Rp 14.790). Hal itu bila pengisian dilakukan dari posisi tangki yang kosong.

Lee dan istrinya Jenna merupakan salah satu contoh orang Amerika yang keranjingan tinggal di 'rumah berjalan'. Bahkan, pasangan itu rela menjual rumah mereka di Dallas pada tahun 2020 dan membeli RV karena pekerjaan mereka bisa dilakukan di mana saja.

Mereka memilih untuk tinggal di 'rumah berjalannya' dan telah wira-wiri ke berbagai tempat di dalam RV mereka. Bahkan pilihan ini tetap dijalani pasangan itu ketika harga bahan bakar di AS sedang meroket.

"Kami memiliki rumah di pinggiran kota dengan kolam renang, pagar, dan sebagainya. Lama kelamaan menjadi sedikit monoton pergi ke kantor dan kembali ke rumah seperti itu. Kini, dengan fleksibilitas kami di atas RV, kami memiliki pemandangan baru setiap minggu," kata Lee dilansir dari CNN, Senin (20/6/2022).

"Sangat mengagumkan. Kami telah menemukan tempat yang kami inginkan," ujarnya.

Popularitas RV memang meledak selama pandemi. Salah satu pemicunya adalah upaya masyarakat untuk mencari solusi liburan dengan tetap menjaga jarak sosial akibat ketakutan akan virus COVID-19. Orang Amerika terus beralih ke RV bahkan ketika mereka semakin nyaman dan pede untuk terbang dengan pesawat dan tinggal di hotel.

Produksi mobil RV di kawasan Amerika Utara telah mencapai titik tertinggi sepanjang masa pada tahun 2021. Setidaknya, Asosiasi Industri RV mencatat ada lebih dari 600.000 kendaraan diproduksi tahun lalu.

Thor Industries, yang memiliki merek RV populer Airstream dan Jayco, mengatakan penjualannya naik 34,6% dalam tiga bulan terakhir. Bahkan, pabrikan itu mengatakan masih memiliki pesanan tambahan RV senilai US$ 13,88 miliar.

Di tengah harga bahan bakar yang melonjak, konsumen disebut mulai enyesuaikan diri salah satunya dengan melakukan perjalanan yang lebih singkat.

"Jika Anda tinggal di Phoenix dan memikirkan berkemah dengan RV ke Yosemite di California, Anda mungkin akan melakukan Grand Canyon yang lebih dekat sebagai gantinya," kata Randall Smalley, yang memimpin pemasaran dan pengembangan bisnis di Cruise America perusahaan yang menyewakan RV.

Near-cations alias liburan dengan RV dalam jarak dekat sedang menjadi tren di negeri Paman Sam. Jennifer Young, salah satu pendiri pasar RV Outdoorsy mengatakan banyak orang berlibur dengan RV dalam jarak 100 mil dari rumah.

Young mengatakan rata-rata biaya per malam dari sewa Outdoorsy telah meningkat US$ 5 dari tahun lalu. Sewa Outdoorsy untuk 4 Juli naik 4% dari tahun lalu.

Jon Gray, CEO RV Share, penyedia layanan penyewaan RV mengatakan ada cara baru untuk menikmati liburan dengan RV. Pihaknya membawa sederet RV ke pusat perkemahan atau tujuan wisata, kemudian meninggalkan RV-nya untuk disewa masyarakat.

Masyarakat bisa mengendarai sendiri kendaraan hemat bahan bakar ke lokasi RV. Kemudian mereka dapat menikmati manfaat berlibur di RV, rasanya mungkin seperti memiliki kamar hotel yang pintunya terbuka ke beberapa tempat paling indah di negara itu.



Simak Video "Warga Banjiri SPBU Sesaat Sebelum Harga Bensin Naik di Pakistan"
[Gambas:Video 20detik]
(hal/zlf)