Negara 'Kipas-kipas' Duit karena Batu Bara cs, Ini Buktinya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 23 Jun 2022 19:45 WIB
A machine loads a BelAZ dump-body truck with coal at the Chernigovsky opencast colliery, outside the town of Beryozovsky, Kemerovo region, Siberia, Russia, April 4, 2016. REUTERS/Ilya Naymushin/File Photo
Foto: REUTERS/Ilya Naymushin/File Photo
Jakarta -

Sektor pertambangan tahun ini memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan negara. Hingga bulan Mei 2022, sektor pertambangan telah memberikan sumbangan besar lewat pajak dan PNBP.

Di sektor perpajakan, pertumbuhan penerimaan dari sektor pertambangan mencapai sekitar 296,3%. Pertambangan berhasil menyumbangkan sekitar 10,1% dari total penerimaan pajak hingga bulan Mei 2022.

"Harga komoditas mengalami kenaikan, jadi dari pajak sektor pertambangan mengalami kenaikan mendekati 300% sendiri pertumbuhannya itu adalah kebalikan ekstrim ketika tahun lalu kontraksi," papar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, Kamis (23/6/2022).

"Artinya sektor ini mulai menjadi windfall profit dan mulai terlihat dalam penerimaan yang kita bukukan," ujarnya.

Adapun penerimaan pajak hingga bulan Mei mencapai Rp 705,82 triliun atau mencapai 55,8% dari target yang ada di APBN.

Di pos pemasukan PNBP, sektor pertambangan baik migas dan non migas juga berkontribusi besar menambah pundi-pundi penerimaan negara. Hingga bulan Mei sendiri penerimaan PNBP mencapai Rp 224,1 triliun atau mencapai 66,8% dari target dalam APBN.

Untuk PNPB SDA migas jumlah penerimaan berhasil tumbuh mencapai 98% dari tahun sebelumnya. Totalnya, dari sektor migas negara mendapatkan penerimaan bukan pajak sebesar Rp 62,9 triliun.

"Kalau kita lihat lifting kita justru turun. Jadi, ini lifting turun namun harga tinggi jadi kenaikan penerimaan buat kita," ujar Sri Mulyani.

Di sektor non migas, PNBP SDA mineral dan batu bara juga berkontribusi besar terhadap penerimaan negara. Pertumbuhan penerimaannya tercatat mencapai 105,3% dari tahun lalu. Hingga bulan Mei, sektor mineral dan batu bara berkontribusi sebesar Rp 29 triliun untuk penerimaan bukan pajak.

"Semua tumbuh juga tinggi 105,3% ini karena harga minerba mengalami kenaikan. Kenaikannya tinggi," papar Sri Mulyani.

Sebagai informasi, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kembali mencatatkan surplus pada Mei 2022. Besarannya adalah Rp 132,2 triliun atau 0,74% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Surplus APBN ini berarti pendapatan lebih besar dibanding jumlah pengeluaran pemerintah. Pendapatan negara mencapai Rp 1.070,4 triliun (58% dari target APBN awal) atau tumbuh 47,3%, sedangkan belanja negara mencapai Rp 938,2 triliun (34,6% dari target APBN) atau tumbuh 0,8%.



Simak Video "Jokowi: Transisi Energi Akan Mengubah Pekerjaan Hingga Orientasi Bisnis"
[Gambas:Video 20detik]
(hal/zlf)