ADVERTISEMENT

Harga Bahan Bakar Bikin Kacau di Asia, Sri Lanka Paling Parah

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 28 Jun 2022 08:41 WIB
Members of the Samagi Vanitha Balawegaya, protest near Sri Lankas Prime Minister Ranil Wickremesinghes private residence, amid the countrys economic crisis, in Sri Lanka, June 22, 2022.
Pemandangan Terkini Sri Lanka yang Tengah Menghadapi Krisis. Foto: NurPhoto via Getty Images
Jakarta -

Di Sri Lanka pemandangan antrean untuk mengisi tangki bahan bakar sudah seperti jadi makanan sehari-hari.

Semua orang melakukan penghematan energi. Mulai dari menutup toko pada jam 8 malam, menutup sekolah, sampai tak menyalakan penyejuk udara.

Tak cuma di Sri Lanka, hal itu juga terjadi di India dan Pakistan. Kondisi sulit ini terjadi di beberapa kawasan Asia Pasifik yang mengalami krisis energi terburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Akibat krisis ini, warga Pakistan dan Sri Lanka melakukan protes kepada pemerintah. Hingga akhirnya para menteri mengundurkan diri dari jabatan mereka.

Banyak kalangan menduga jika kondisi ditunggangi kepentingan politik. Pasalnya Sri Lanka akan menempuh jalan untuk menerima bantuan dari International Monetary Fund (IMF).

Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremsinghe menyebut jika ekonomi Sri Lanka benar-benar runtuh.

Memang di wilayah lain, kondisi seperti ini tidak terlalu terasa. Namun berpotensi besar berdampak pada semua negara di dunia. Seperti Australia yang bisa saja mengalami krisis energi sehingga menyebabkan beban tagihan lebih tinggi dari biasanya.

Dikutip dari CNN disebutkan harga listrik pada kuartal I 2022 naik 141% dibandingkan tahun lalu. Pemerintah Sri Lanka meminta masyarakat untuk membatasi penggunaan listrik pada 15 Juni.

Salah satu penyebabnya adalah dampak pandemi COVID-19 sampai perang Rusia dan Ukraina. Dua masalah ini membuat perkiraan pemulihan ekonomi kacau dan tekanan makin tak terkendali.

Saat pandemi COVID-19 permintaan bahan bakar sangat rendah. Konsumsi listrik global turun 3% pada kuartal I 2020 akibat penguncian dan pembatasan lainnya yang membuat pekerja bisa mengerjakan tugas dari rumah, tak ada mobil keluar dan kapal bersandar di pelabuhan.

Namun ketika banyak negara mulai transisi ke endemi, permintaan bahan bakar melonjak sehingga membuat harga batu bara dan minyak menyentuh rekor tertinggi.

Kepala Ekonom Moody's Analytics Mark Zandi mengungkapkan harga impor bahan bakar melambung tinggi di seluruh dunia. Hal ini karena harga batu bara dan gas alam 10 kali lebih tinggi dari tahun sebelumnya.

"Jika sebuah negara berkembang seperti Sri Lanka harus membeli minyak dan gas alam maka ini adalah perjuangan yang berat," jelas Zandi, dikutip dari CNN, Selasa (28/6/2022).

Dia menyebut negara miskin yang berkembang tak akan mampu bersaing dengan negara kaya. Apalagi banyak barang yang dibutuhkan untuk mengimpor.

"Mereka mengalami harga tinggi dan pasokan yang rendah. Jadi mereka harus membayar lebih untuk pasokan energi ini," jelas dia.



Simak Video "Ngeri, Negara-negara Ini Terancam Bangkrut Seperti Sri Lanka"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT