ADVERTISEMENT

Sri Lanka Bangkrut! Menterinya Cabut ke Qatar dan Rusia Cari BBM

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Rabu, 29 Jun 2022 13:51 WIB
Krisis ekonomi membuat warga Sri Lanka mengantre berhari-hari agar dapat membeli BBM. Selain itu warga diminta menunjukkan token saat akan membeli BBM di SPBU.
Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto
Jakarta -

Di tengah keterpurukan ekonomi, Sri Lanka mengirimkan menteri-menterinya ke Qatar dan Rusia dengan harapan memperoleh jalinan kerjasama menyangkut pasokan energi. Pasalnya, krisis bahan bakar di negara kepulauan tersebut telah melumpuhkan perekonomian negara, hingga membuat banyak sekolah ditutup.

Kedua menteri yang diberangkatkan tersebut antara lain Menteri Tenaga dan Energi Kanchana Wijesekera, yang tiba lebih dulu di Qatar pada Senin malam, dan Menteri Pendidikan Susil Premajayanth, yang dijadwalkan tiba di Rusia pada 3 Juli mendatang.

Dalam keterangan seorang pejabat kementerian, Wijesekera mengatakan ia berharap untuk menemukan pemasok bahan bakar jangka panjang di Qatar yang bersedia bekerja dengan devisa Sri Lanka beserta tantangan lainnya, dilansir melalui Reuters, Rabu (29/02/2022).

Sementara itu, Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa mengatakan di akun Twitter, dia bertemu dengan duta besar Rusia, Yuri Materiy, pada hari Senin. Tidak hanya itu, pada bulan lalu pun Sri Lanka telah membeli 90.000 ton minyak Rusia.

"Mempertahankan hubungan bilateral yang kuat antara kedua negara, sementara fokus pada pengembangan peluang perdagangan dibahas secara luas pada pertemuan ini," kata Rajapaksa.

Sebagai tambahan informasi, Sri Lanka sedang mengalami krisis keuangan yang begitu dahsyat. Ekonomi negara ini mengalami kontraksi sebesar 1,6% pada Januari hingga Maret dibandingkan periode yang sama pada 2021. Bahkan, analis mengatakan inflasi yang lebih tinggi dan ketidakpastian politik dapat menyebabkan kontraksi mencapai angka 5% pada kuartal kedua.

Gejolak tersebut dihasilkan dari pertemuan pandemi COVID-19 yang menghancurkan industri pariwisata yang menguntungkan dan pengiriman uang pekerja asing, pemotongan pajak yang tidak tepat waktu oleh Rajapaksa yang menguras kas pemerintah dan kenaikan harga minyak.

Krisis ini menyebabkan cadangan mata uangnya berada pada nominal sangat rendah, hingga membuat impor barang-barang penting termasuk makanan, obat-obatan, bensin dan solar semakin sulit.

Pemerintah menutup sekolah-sekolah di kawasan perkotaan selama kurang lebih dua minggu, terhitung hari Selasa. Tidak hanya itu, pemerintah hanya mengizinkan pasokan bahan bakar digunakan untuk layanan yang dianggap penting seperti kesehatan, kereta api, dan bus karena persediaannya yang diprediksi hanya dapat bertahan sekitar satu minggu atau lebih berdasarkan permintaan reguler. Seorang juru bicara pemerintah mengatakan, masyarakat telah didorong untuk bekerja dari rumah.

Dalam upaya mendapatkan lebih banyak bahan bakar, Wijesekera mengatakan pada hari Selasa, duopoli yang mengendalikan impor di Sri Lanka akan berakhir sehingga perusahaan-perusahaan dari negara-negara penghasil minyak akan diizinkan masuk ke pasar.

Pemerintah juga sedang melakukan berkoordinasi dengan Dana Moneter Internasional (IMF) mengenai paket pinjaman, dan telah mengundang mitra kunci antara lain dari India, Cina dan Jepang ke konferensi donor untuk menambah miliaran dolar bantuan yang telah dijanjikan.



Simak Video "Ngeri, Negara-negara Ini Terancam Bangkrut Seperti Sri Lanka"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT