Perjalanan Harga BBM Subsidi Sejak Era Bung Karno hingga Jokowi

ADVERTISEMENT

Perjalanan Harga BBM Subsidi Sejak Era Bung Karno hingga Jokowi

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Minggu, 10 Jul 2022 09:05 WIB
Warga membeli bbm subsidi jenis premium di SPBU Pertamina, Otista, Jakarta Timur, Jumat (15/11/2019). Pertamina berharap penyaluran BBM Bersubsidi tepat sasaran. Sebab yang terjadi di lapangan hingga kini BBM Bersubsidi masih banyak dikonsumsi oleh masyarakat yang secara ekonomi tergolong mampu.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Pemerintah tengah putar otak untuk mengatur konsumsi BBM subsidi. Hal itu dilakukan agar subsidi yang dikucurkan tidak jebol dan subsidi itu diterima kepada mereka yang berhak.

Saat ini, pemerintah tengah merevisi aturan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak (BBM). Lewat revisi aturan ini, pemerintah akan menentukan siapa saja yang boleh 'minum' BBM subsidi dan penugasan yakni solar dan Pertalite.

Sejalan dengan itu, PT Pertamina (Pertamina) tengah melakukan uji coba penyaluran BBM subsidi tepat sasaran. Hal itu ditempuh dengan dibukanya pendaftaran kepada masyarakat lewat sistem MyPertamina.

BBM subsidi sendiri sebenarnya bukan barang baru. Bahkan, keberadaan BBM subsidi ini sudah ada sejak Presiden Pertama Soekarno dan harganya terus berubah.

Sebagaimana dikutip dari jurnal The Habibie Center, Minggu (10/7/2022), Presiden Soekarno diketahui melakukan beberapa kali melakukan penyesuaian harga BBM subsidi. Dari data Habibie Center dari Kementerian ESDM dan Pertamina, penyesuaian harga BBM itu dilakukan pada tahun 1965 dan 1966.

Harga BBM pada 22 November 1965 yakni Rp 0,30/liter untuk Premium, Rp 0,20/liter untuk minyak tanah dan Rp 0,20/liter untuk solar. Kemudian, terjadi perubahan harga pada 3 Januari 1966 di mana Premium Rp 1/liter, minyak tanah Rp 0,60/liter dan solar Rp 0,80/liter. Penyesuaian kembali terjadi pada 27 Januari 1966 yakni untuk Premium Rp 0,50/liter, minyak tanah Rp 0,30/liter dan solar Rp 0,40/liter.

Di masa Orde Baru Presiden Soeharto, penyesuaian harga tercatat sebanyak 21 kali. Meski demikian, penyesuaian tak dilakukan secara serentak untuk semua jenis BBM subsidi.

Pada tahun 1967, harga Premium dibanderol Rp 4/liter. Kemudian, di penghujung masa jabatannya tahun 1998, harga Premium menjadi Rp 1.000/liter. Berikutnya, harga minyak tanah dari Rp 1,8/liter (tahun 1967) berubah menjadi Rp 280/liter (tahun 1998). Sementara, solar dari Rp 3,5/liter (tahun 1967) menjadi Rp 550/liter (tahun 1998).

Presiden selanjutnya baca di halaman berikutnya



Simak Video "Wanti-wanti Jokowi Harga BBM-Roti Bisa Naik Gegara Perang di Ukraina"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT