ADVERTISEMENT

Kisah Raja Nikel China Sempat Terancam Bangkrut Gara-gara Harga Anjlok

Tim detikcom - detikFinance
Rabu, 13 Jul 2022 09:54 WIB
Nikel
Ilustrasi Nikel/Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta -

Xiang Guangda, pendiri Tsingshan Group membuat taruhan besar-besaran beberapa tahun terakhir bahwa harga nikel akan jatuh. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, pada Maret 2022 harga logam berjangka naik 250% yang bisa membuat perusahaannya bangkrut.

Dikutip dari CNN, Rabu (13/7/2022), Tsingshan Holding Group, produsen nikel terbesar dunia terdampak dari kenaikan harga logam tersebut. Kepemilikan Xiang yang setara dengan seperdelapan dari semua kontrak nikel di pasar ditahan.

Jumlahnya pada 2020-2021 sebanyak 30.000 ton dalam posisi short London Metal Exchange (LME), dan 120.000 ton lainnya ditahan dalam perdagangan dengan bank termasuk JPMorgan, BNP Paribas, Standard Chartered, dan United Overseas Bank.

Kemudian antara Jumat 4 Maret hingga Selasa 8 Maret 2022, ada tekanan yang membuat harga nikel berjangka naik dari US$ 29.000 per ton menjadi US$ 100.000 per ton. Jika harga nikel tetap bertengger di level itu, Xiang akan berutang kepada LME lebih dari US$ 10 miliar yang bisa membuat perusahaannya bangkrut.

Para eksekutif LME bergerak memberikan jalan kepada para pialang yang mewakili Tsingshan dan produsen lainnya. LME menghentikan perdagangan nikel dan membatalkan 9.000 perdagangan yang terjadi pada 8 Maret dengan total US$ 4 miliar.

Hal ini berujung pada turunnya harga nikel di bawah US$ 50.000. Namun, penurunan harga ini masih membuat Tsinghsan merugi.

Xiang akhirnya pelan-pelan mengurangi jumlah nikelnya begitu harga turun di bawah US$ 30.000 per ton. Ketika bursa dibuka kembali seminggu kemudian, harga turun dan Tsingshan dapat dengan cepat menutupi 20% dari posisi short-nya.

Pada Mei, lockdown di China telah menghancurkan harga nikel dan Tsingshan hampir sepenuhnya pulih. Xiang melunasi utangnya dengan JPMorgan dan bank-bank lain sekitar US$ 1 miliar. Tsingshan dengan mudah mengimbangi kerugian itu dengan pendapatan US$ 56 miliar tahun lalu. Sementara itu, JPMorgan melaporkan kerugian terkait nikel US$ 120 juta dalam laporan pendapatan kuartal I-2022.

"Kami membantu klien kami melewati ini. Kami mengalami sedikit kerugian pada kuartal ini, kami akan mengatasinya. Kami akan melakukan pemeriksaan pada apa yang kami pikir kami lakukan salah dan apa yang dapat dilakukan LME secara berbeda nanti," kata CEO Jamie Dimon beberapa waktu lalu.

LME masih berurusan dengan dampak turunnya harga nikel, volume perdagangan yang belum pulih dan kemampuan bursa untuk mengukur harga nikel secara akurat. Volume perdagangan LME turun 21% pada kuartal II-2022 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

LME akan meminta semua anggota untuk mengungkapkan kondisi kliennya secara mingguan mulai 18 Juli. Analis mengungkapkan seandainya ketentuan itu diberlakukan pada Maret, LME akan mengetahui bahwa satu perusahaan mengalami kekurangan 150.000 ton.

(ara/ang)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT