ADVERTISEMENT

Warga Amerika Latin Terancam Kelaparan Gara-gara Harga Bensin Mahal

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 23 Jul 2022 16:45 WIB
TOPSHOT - Latin American migrants taking part in a caravan towards the border with the United States, sleep in Huehuetan, Chiapas state, Mexico, on June 7, 2022. - President Joe Bidens plans to reboot US engagement with Latin America -- especially on critical topics like migration -- took a hit after key partner Mexico snubbed a regional summit opening Monday in Los Angeles to protest Washingtons exclusion of three far-left countries. (Photo by Isaac GUZMAN / AFP) (Photo by ISAAC GUZMAN/AFP via Getty Images)
Ilustrasi/Foto: AFP via Getty Images/ISAAC GUZMAN
Jakarta -

Kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS) saat ini sedang menghadapi tantangan berat mulai dari harga bensin yang melambung tinggi, inflasi sampai ancaman masuk ke jurang resesi.

Dikutip dari CNN, disebutkan mahalnya harga bahan bakar ini disebut mengancam ketahanan pangan di Amerika Latin seperti Argentina, Ekuador dan Panama.

Direktur Analisis Risiko sebuah konsultan bisnis Bogota Sergio Guzman mengungkapkan harga bahan bakar ini merupakan hal penting untuk perekonomian.

"Jika harga bahan bakar naik maka akan berdampak langsung ke semua harga kebutuhan masyarakat," kata dia dikutip dari CNN, Sabtu (23/7/2022).

Dia mengungkapkan negara-negara di Amerika Latin membutuhkan bahan bakar yang lebih besar dibandingkan sebelumnya. Misalnya di Ekuador yang merupakan negara produsen pisang. Membutuhkan mesin diesel untuk memindahkan air di perkebunan pisang. Pompa ini sangat dibutuhkan karena curah hujan yang makin deras dan harus dipindahkan.

Tahun ini produksi pisang Ekuador merosot hingga 7% dibandingkan periode tahun lalu. Penyebab utamanya adalah karena mahalnya harga solar dan bensin.

Kondisi ini juga terjadi pada industri perikanan di Kolombia. Banyak penduduk sebelumnya menikmati harga bahan bakar termurah di dunia. Namun belum lama ini pemerintah negara itu mengumumkan harga bahan bakar terbaru dan membuat terkejut banyak pihak.

Hal ini membuat nelayan kesulitan untuk ke pantai karena membutuhkan solar untuk bahan bakar.

Pada April lalu Bank Dunia melakukan kajian untuk prediksi pertumbuhan ekonomi di Amerika Latin dan Karibia menjadi 2,3% pada tahun ini. Hal ini disebabkan oleh perang Ukraina dan kenaikan harga di dunia.

Guzman menyebutkan jika pemerintah di negara tersebut tidak akan bisa menekan kenaikan biaya hidup masyarakat akibat naiknya inflasi.

"Ketika kantong mereka makin ketat maka kesabaran akan habis," kata dia.

Presiden Ekuador Gullermo Lasso menjelaskan dirinya dipaksa untuk melakukan pembatasan harga bensin menjadi US$ 2,4 per galon.

(kil/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT