ADVERTISEMENT

Ogah Tergantung Rusia, Negara Eropa Mau 'Puasa' Gas hingga 15%

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 26 Jul 2022 22:51 WIB
Jakarta -

Uni Eropa telah sepakat menekan penggunaan gas sebagai sumber utama energi. Para Menteri Energi Uni Eropa sepakat melakukan hal ini demi menghindari kekhawatiran seretnya pasokan dari Rusia.

Setelah perundingan dan diskusi yang panjang, negara anggota Uni Eropa sepakat untuk secara sukarela mengurangi penggunaan gas sebesar 15% dari Agustus hingga Maret 2023.

"Tujuan pengurangan permintaan gas adalah untuk melakukan penghematan menjelang musim dingin guna mempersiapkan kemungkinan gangguan pasokan gas dari Rusia yang terus menggunakan pasokan energi sebagai senjata," tulis keterangan Komisi Uni Eropa dilansir dari BBC, Selasa (26/7/2022).

Meski begitu, Uni Eropa mengatakan beberapa negara yang tidak terhubung ke jalur pipa gas utama Eropa akan dibebaskan dari perintah pengurangan gas. Hal itu terjadi karena negara itu tidak akan dapat memperoleh pasokan gas alternatif.

Negara-negara yang tidak terhubung ke sistem kelistrikan Eropa dan sangat bergantung pada gas untuk produksi listrik juga dikecualikan dari larangan ini.

Negara-negara Eropa juga dapat meminta agar aturan dilonggarkan jika mereka sangat bergantung pada gas untuk industri kritis dan penting.

"Keputusan hari ini dengan jelas menunjukkan negara-negara anggota akan berdiri tegak melawan setiap upaya Rusia untuk memecah UE dengan menggunakan pasokan energi sebagai senjata. Menghemat gas sekarang akan meningkatkan kesiapsiagaan," papar Jozef Síkela, Menteri Industri dan Perdagangan Ceko.

Kesepakatan mengurangi penggunaan gas itu muncul setelah perusahaan energi Rusia Gazprom mengumumkan akan mengurangi aliran gas ke Jerman untuk memungkinkan pengerjaan turbin pada pipa Nord Stream 1.

Pipa, yang memompa gas dari Rusia ke Jerman, telah berjalan jauh di bawah kapasitas selama berminggu-minggu.

Gazprom telah memotong pasokan gas ke Bulgaria, Denmark, Finlandia, Belanda, dan Polandia karena penolakan mereka untuk membayar tagihan gas denhan mata uang Rubel, bukan Euro atau Dolar AS.

Rusia memasok Uni Eropa dengan 40% gasnya tahun lalu, dan sejak invasi Ukraina para pemimpin Eropa telah mengadakan pembicaraan tentang bagaimana mengurangi ketergantungannya pada bahan bakar fosil Rusia.

Sementara Inggris tidak akan terkena dampak langsung oleh gangguan pasokan, karena hanya mengimpor kurang dari 5% gasnya dari Rusia. Hanya saja, Inggris akan merasakan kenaikan harga gas di pasar global karena permintaan di Eropa meningkat.

(hal/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT