ADVERTISEMENT

Menteri ESDM Akui Harga Pertalite Bisa Naik, Lagi Dibahas Kantor Airlangga

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 16 Agu 2022 13:01 WIB
Jakarta Energy Forum 2020 resmi dibuka oleh Menteri ESDM Arifin Tasrif. Acara ini bertema  The Future of Energy.
Menteri ESDM Arifin Tasrif/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengakui pemerintah sedang membahas kenaikan harga BBM jenis Pertalite. Selama ini BBM tersebut masuk ke dalam Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) yang harganya ditentukan pemerintah dan tidak dilepaskan ke pasar.

Saat ini, Arifin mengatakan pembahasan kenaikan harga Pertalite intens dilakukan di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang dipimpin Airlangga Hartarto.

"Lagi dibahas (kenaikan BBM Pertalite). Masih dikoordinasi di pak Airlangga," kata Arifin kepada wartawan usai Sidang Tahunan MPR, Selasa (16/8/2022).

Menurutnya, harus ada Peraturan Presiden (Perpres) yang diubah terlebih dahulu untuk menaikkan harga BBM. Maka ada kemungkinan besar butuh waktu pembahasan lebih lama.

"Kita harus mengubah Perpres dulu. (Apakah bulan ini?) Mudah-mudahan, karena harus sosialisasi dulu," sebut Arifin.

Kenaikan Harga BBM Dihitung

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sebelumnya memberi sinyal bahwa harga BBM bakal naik. Saat ini pemerintah sedang menghitung berapa besarannya jika terjadi kenaikan.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan subsidi energi Rp 502 triliun sudah terlalu besar. Untuk itu pemerintah sedang menjajaki opsi-opsi lainnya.

"(Apakah ada tambahan subsidi?) Kalau subsidi kan sudah diputus sama DPR yang Rp 502 triliun. Adanya harga seperti ini kita pertimbangkan apakah ada kenaikan apa nggak," kata Susi kepada wartawan di Gedung Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (15/8/2022) kemarin.

Saat kembali ditanya apakah subsidi BBM bakal ditambah, Susi kembali menyampaikan bahwa beban APBN sudah terlalu berat. Untuk itu, kemungkinan pemerintah akan menaikkan harga BBM agar selisih harga keekonomian dengan harga jual tidak terlalu besar.

"Space APBN kita kan sudah cukup berat. Mungkin supaya gap-nya tidak terlalu tinggi antara harga jual kita dengan harga keekonomian kan tinggi sekali tuh dari 7.000 dengan 17.000, kan jauh. Kita sedang hitung apakah perlu opsi kenaikan harga," tutur Susiwijono.

Sayangnya Susi belum mau menyampaikan jenis BBM Pertalite atau Pertamax yang akan naik. Yang jelas hitungan kenaikan BBM sedang disiapkan.

"Angka-angkanya masih dihitung semua. Nanti kan Bapak Presiden akan minta laporan semua dari Menteri ESDM, Menteri Keuangan semua. Pak Menko Perekonomian juga sedang menyiapkan hitung-hitungan angkanya, kita sudah rapat," tambahnya.

(hal/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT