Royalti Batu Bara Naik Maksimal 13,5%, PTBA Waswas Biaya Produksi Naik

ADVERTISEMENT

Royalti Batu Bara Naik Maksimal 13,5%, PTBA Waswas Biaya Produksi Naik

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 26 Agu 2022 14:03 WIB
Pemerintah mengambil kebijakan untuk melakukan pelarangan ekspor batubara periode 1 hingga 31 Januari 2022.
Ilustrasi Batu Bara/Foto: Pradita Utama
Jakarta -

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) merespons kenaikan tarif royalti batu bara bagi perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambahan (IUP) batu bara. Tarif royalti batu bara meningkat maksimal 13,5%.

Direktur Utama Bukit Asam Arsal Ismail mengatakan kenaikan tarif royalti batu bara bisa saja berdampak buruk kepada perusahaan. Bukit Asam sendiri menjadi salah satu perusahaan pelat merah yang memiliki tambang batu bara.

Kenaikan royalti, di mata Arsal, dapat meningkatkan harga pokok produksi (HPP) pertambangan batu bara. Bahkan bisa saja menggerus laba perusahaan.

"Dengan adanya penerapan royalti memang akan sedikit menggerus laba perusahaan kalau tidak ada peningkatan penjualan. Karena ini hanya akan menaikkan HPP," kata Arsal dalam konferensi pers di Hotel Rafless, Jakarta Selatan, Jumat (26/8/2022).

Hitungan kasarnya kenaikan biaya bisa terjadi 5%, kenaikan biaya otomatis bisa saja menggerus pendapatan. "Ini kami masih hitung dengan harapan nanti kalau volume penjualan dan harga meningkat, tentu pengaruh ke labanya tidak terlalu signifikan," sebut Arsal.

Namun, dia menilai kondisi pasar batu bara saat ini nampaknya bisa mengimbangi kenaikan biaya produksi karena royalti batu bara yang naik. Bagaimana tidak, harga batu bara saat ini sedang berada di level yang cukup tinggi.

"Tapi biaya yang timbul ini diimbangi dengan kondisi market yang ada sekarang ini. Pengaruhnya kalau untuk tahun ini relatif tidak begitu besar. Nanti tahun depan mungkin akan berdampak," ungkap Arsal.

Arsal menjamin kondisi pasar saat ini masih akan menguntungkan. Maka dari itu, dampak kenaikan royalti batu bara bisa diantisipasi dan kondisi perusahaan bisa dipastikan tetap sehat.

"Kami coba hitung dan lihat kondisi pasar tapi kami yakin bahwa dampak kenaikan royalti masih bisa diantisipasi oleh perseroan, dan perseroan yakin dengan adanya kenaikan royalti, kondisi perusahaan akan tetap sehat," ujar Arsal.

Sebelumnya, pemerintah menetapkan kenaikan pada iuran produksi alias tarif royalti batu bara bagi perusahaan pemegang IUP batu bara. Hal ini tercantum dalam Peraturan Pemerintah atau PP Nomor 26 Tahun 2022 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Beleid itu sekaligus mencabut PP Nomor 81 Tahun 2019.

Dalam PP No 26 Tahun 2022, kenaikan tarif royalti terjadi dari yang sebelumnya maksimal 7% di aturan lama, menjadi 13,5%. Royalti diambil dari harga jual per ton secara progresif karena menyesuaikan dengan Harga Batu Bara Acuan (HBA).

Rincian Royalti Batu Bara:

Batu Bara Open Pit

1. Tingkat Kalori 4.200 Kkal/kg ke bawah

- HBA di bawah US$ 70: 5%
- HBA US$ 70 - 90: 6%
- HBA US$ 90 ke atas: 8%

2. Tingkat Kalori 4.200-5.200 Kkal/kg

- HBA di bawah US$ 70: 7%
- HBA US$ 70 - 90: 8,5%
- HBA US$ 90 ke atas: 10,5%

3. Tingkat Kalori 5.200 Kkal/kg ke atas

- HBA di bawah US$ 70: 9,5%
- HBA US$ 70 - 90: 11,5%
- HBA US$ 90 ke atas: 13,5%

(hal/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT