PTPN Mau Produksi Ethanol Buat Campuran BBM

ADVERTISEMENT

PTPN Mau Produksi Ethanol Buat Campuran BBM

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 08 Sep 2022 19:45 WIB
Sejumlah kendaraan antre mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Tol Sidoarjo 54.612.48, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (11/4/2022). Pemerintah menetapkan Pertalite sebagai jenis BBM khusus penugasan yang dijual dengan harga Rp7.650 per liter dan Biosolar Rp5.510 per liter, sementara jenis Pertamax harganya disesuaikan untuk menjaga daya beli masyarakat yakni menjadi Rp 12.500 per liter dimana Pertamina masih menanggung selisih Rp3.500 dari harga keekonomiannya sebesar Rp16.000 per liter di tengah kenaikan harga minyak dunia. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/rwa.
PTPN Mau Produksi Ethanol Buat Campuran BBM/Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Jakarta -

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sedang menjalankan program B40 untuk menghasilkan produk bahan bakar berkualitas tinggi yang ramah lingkungan. Hal ini sekaligus guna mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor Bahan Bakar Minyak (BBM).

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan pihaknya melalui PT Perkebunan Nusantara/PTPN (Persero) akan bergerak dalam mengolah komoditas gula menjadi ethanol sebagai campuran BBM yang memiliki kualitas baik untuk kendaraan.

"Kita dorong program pemerintah B40 ataupun yang sudah kita dorong. Kenapa PTPN kita ubah dari 13 jadi 4, salah satunya PTPN gula ditargetkan untuk membuka 700 ribu hektare dengan catatan nanti Perpresnya akan keluar sebagian untuk ethanol karena ethanol itu menghasilkan RON 130, bisa mencapai campuran yang baik untuk kebutuhan BBM kita," ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (8/9/2022).

Selain itu, pemerintah juga akan membatasi BBM subsidi melalui revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 tahun 2014 tentang tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM. "Kita masih menunggu penyelarasan dari Perpres 191," tuturnya.

Erick mengatakan Indonesia sudah melakukan impor BBM sejak 2003. Jika tidak ada pembaharuan, besaran impor akan semakin meningkat menyesuaikan kebutuhan jumlah masyarakat.

"Kita bisa lihat pertumbuhan penduduk Indonesia dari sebelumnya sampai sekarang 273 juta. Bahkan 2045 diperkirakan mencapai 318 juta, kelas menengah kita akan meningkat sampai 145 juta," bebernya.

Apalagi pertumbuhan BBM tak hanya digunakan untuk kendaraan pribadi dan umum. Melainkan juga banyak digunakan untuk petrokimia, di mana turunannya dapat menjadi bahan baku plastik, baju, bahan baku obat, dan lainnya.

Untuk itu, kata Erick, pemerintah perlu mendorong solusi dalam menanggulangi BBM secara menyeluruh. Pada kenyataannya penanggulangan BBM melibatkan kebijakan yang lebih luas yaitu pada transportasi umum ataupun fasilitasnya, salah satunya pengenalan motor dan mobil listrik.

"Karena kita harus dorong penggunaan motor mobil listrik tak hanya di BUMN tapi target masing-masing kota Indonesia," tandasnya.

(aid/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT