Jika Jokowi Jadi Beli Minyak Murah Rusia, Harga BBM Bisa Turun?

ADVERTISEMENT

Jika Jokowi Jadi Beli Minyak Murah Rusia, Harga BBM Bisa Turun?

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Senin, 12 Sep 2022 14:36 WIB
Antrean Pertalite Mengular di Depok
Antrean Pembeli Pertalite Mengular Sebelum Kenaikan Harga BBM. Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Presiden Joko Widodo membuka opsi untuk membeli minyak murah dari Rusia. Hal ini menimbulkan kondisi dilematis, apalagi berpotensi membuat RI diembargo Amerika Serikat (AS). Namun jika itu dilakukan apakah bisa berdampak pada penurunan harga BBM?

Pengamat dari Energy Watch Mamit Setiawan menilai, apabila tawaran tersebut berhasil dilaksanakan, akan berdampak baik pada RI dari segi pengurangan biaya produksi BBM.

"Saya kira jika opsi berhasil dilaksanakan akan sangat baik kita. Dengan harga yang jauh lebih murah maka akan ada pengurangan biaya produksi untuk BBM kita. Tinggal seberapa besar kita mampu membeli dari total nilai impor kita," kata Mamiet, kepada detikcom, Senin (12/9/2022).

Mamit menekankan, semua kembali lagi pada rencana RI mengimpor seberapa banyak minyak. Jika pemerintah mampu mengimpor banyak, maka beban subsidi minyak RI akan berkurang secara signifikan. Ujungnya juga bisa menurunkan harga BBM.

"Jika mampu besar maka akan signifikan mengurangi beban. Dengan demikian ada potensi untuk bisa menurunkan harga BBM. Jika sedikit ya tidak akan signifikan karena impor yang lain nilainya sesuai dengan harga pasar," jelasnya.

Apalagi, Mamit menjelaskan, Indonesia merupakan nett importir minyak di mana kebutuhan RI mencapai 1,6 juta BOPD, sedangkan produksinya hanya 620.000 BOPD. Dengan demikian, nilai impor RI masih sangat besar.

"Kalau impornya sedikit sedangkan yang lain harga keekonomian maka sama saja, tidak signifikan. Tapi untuk BBM umum Badan Usaha wajib menyesuaikan ya. Menggunakan formula dalam KepMen ESDM 62/2020 maka mereka harus mengikuti formula tersebut dan menyesuaikan harganya," katanya.

Di sisi lain, untuk harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar sendiri, menurut Mamit, akan sulit untuk melakukan penyesuaian harga nantinya lantaran beban kompensasi negara yang begitu besar.

"Kalau BBM JBT dan JBKP saya kira ini yang sulit karena sejauh ini masih besar nilai kompensasi yang harus dibayarkan negara. Kecuali Presiden yang meminta," tandasnya.

Berbeda dengan Mamit, Pengamat Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi menyebut langkah mengambil tawaran Rusia adalah stupid decision atau pilihan bodoh. Pasalnya, pilihan tersebut justru akan mendatangkan lebih banyak kerugian ekonomi.

"Kalau RI ya agak berat. Karena ekspor RI ke AS atau negara-negara Eropa, kita nggak bisa apa-apa. Bargaining position-nya kita lebih lemah. Kalau nekat ya agak berat, ya lebih baik jangan dilakukan. Kalau nekat, itu menurut saya stupid decision," ungkap Fahmy.

Lanjut di halaman berikutnya untuk mengetahui penjelasan Fahmy yang menyebut jika Jokowi membeli minyak Rusia merupakan keputusan yang bodoh.



Simak Video "Bos Minyak Rusia Penentang Invasi Ukraina Tewas Jatuh dari Jendela RS"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT