Penggunaan B30 Digenjot demi Tekan Impor Solar

ADVERTISEMENT

Penggunaan B30 Digenjot demi Tekan Impor Solar

Tim detikcom - detikFinance
Selasa, 13 Sep 2022 17:53 WIB
Kementerian ESDM lewat Balitbang masih melakukan serangkaian uji coba bahan bakar campuran biodiesel 30% atau B30. Saat ini tahapan uji coba telah mencapai 70%.
Foto: Solehudin: Biodisesl 30% atau B30
Jakarta -

Penggunaan B30 yang diproduksi oleh industri sawit adalah bagian penting dari upaya Indonesia mengurangi penggunaan solar. Parlemen mendorong agar B30 digunakan lebih luas oleh masyarakat.

Selama ini, penggunaan lebih besar digunakan pada kendaraan umum, bukan kendaraan pribadi. Karenanya, Dewan mendukung peningkatan suplai bahan bakar yang menggunakan CPO tersebut secara luas. Peningkatan ini dinilai bisa mengurangi konsumsi BBM masyarakat yang sebesar 80% berupa Pertalite.

Wakil Ketua Komisi VII Eddy Soeparno mengapresiasi penggunaan B30 di dalam negeri. "Di satu pihak memang saya mengapresiasi penggunaan yang lebih luas lagi untuk bahan bakar B30. Hal ini tentu merupakan bagian dari upaya kita untuk mengurangi penggunaan dari solar sepenuhnya karena ada campuran biodiesel di dalamnya," kata Eddy di Jakarta, Selasa (13/9).

"Oleh karena itu kami tetap mendorong supaya B30 itu ditingkatkan terutama suplainya supaya akan bisa diperluas lagi distribusinya dan volume juga bisa ditingkatkan untuk dikonsumsi masyarakat," ujar Eddy.

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan di kesempatan berbeda menilai, seluruh program biodiesel merupakan salah satu upaya progresif pemerintah dalam mempenetrasi penerapan energi terbarukan di dalam negeri. Menurutnya, ada dua hal utama yang dapat Indonesia capai lewat program ini.

"Dengan program ini kita akan mendapat dua hal. Pertama, pastinya bisa mengurangi impor akan solar. Kedua, pasti jadi salah satu program unggulan pemerintah dalam rangka bauran energi," ungkapnya di Jakarta.

Kementerian ESDM menyebut, diversifikasi energi fosil dengan energi terbarukan merupakan salah satu langkah konkret menurunkan emisi. Targetnya, bauran energi di Indonesia pada 2025 bisa mencapai sebesar 23%.

Meski, diakui Mamit, harga keekonomian biodiesel masih cenderung lebih tinggi. Apalagi, di saat harga CPO yang melonjak tinggi akibat berbagai persoalan dan gangguan pasar berdampak pada bahan pembentuk biodiesel, yakni asam lemak metil ester (fatty acid methyl esther/FAME). Belum lagi, sentimen perang Rusia-Ukraina juga membuat minyak dunia termasuk CPO juga mengalami kenaikan. Namun, dirinya optimistis fase harga diesel yang tinggi ini akan berubah dan harga akan turun.

"Saya kira, seiring keadaan yang mulai membaik di sisi demand dan supply, kemungkinan (biodiesel) akan mengalami penurunan harga," sebutnya.

Bersambung ke halaman berikutnya. Langsung klik

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT