Di Depan Pengusaha, Menteri ESDM Beberkan Potensi 'Harta Karun' RI

ADVERTISEMENT

Di Depan Pengusaha, Menteri ESDM Beberkan Potensi 'Harta Karun' RI

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 14 Sep 2022 14:05 WIB
Kementerian ESDM mencatat bauran energi baru dan terbarukan (EBT) telah mencapai 15 persen. EBT ditargetkan mencapai 23 persen pada 2025 mendatang.
Foto: Antara Foto
Jakarta -

Para pelaku usaha di bidang panas bumi berkumpul di Jakarta Convention Center, Jakarta dalam acara The 8th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2022. Acara tahunan ini terselenggara 14-16 September 2022.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan, Indonesia berkomitmen untuk mengejar target mencapai net zero emission di tahun 2060. Maka itu, transisi menuju energi yang bersih diperlukan.

Dia mengatakan, Indonesia memiliki sumber energi baru terbarukan (EBT) yang melimpah. Potensi EBT diperkirakan mencapai 3.000 giga watt (GW).

"Di mana potensi panas bumi di dalamnya berkontribusi sekitar 24 GW. Pembangkit EBT selama 5 tahun terakhir mengalami peningkatan. Saat ini kapasitas pembangkit EBT kita total mencapai 12.000 MW atau 12 GW dan panas bumi menyumbang sekitar 2,2 GW dan ini ke depannya akan terus dikembangkan," terangnya dalam sambutan.

Arifin menjelaskan, potensi EBT akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mempercepat transisi energi. Pada tahun 2060 kapasitas pembangkit EBT ditargetkan kurang lebih 700 GW yang berasal dari solar, hydro, bayu, bio energi, laut, panas bumi, termasuk hidrogen dan nuklir.

"Pembangkit panas bumi diperkirakan akan mencapai 22 GW yang didorong dengan pengembangan skema bisnis baru," katanya.

Sementara, Ketua Umum Asosiasi Panasbumi Indonesia (API) Prijandaru Effendi mengatakan, pemanfaatan panas bumi untuk mendukung sistem kelistrikan nasional sudah mulai sejak tahun 1983. Dia mengatakan, hingga saat ini kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia 2.192 MW atau rata-rata pertumbuhan per tahun sekitar 60 MW.

"Lambatnya pertumbuhan ini karena tantangan utama saat ini masih berproses untuk menemukan solusinya terutama dalam hal kesenjangan harga yaitu antara harga yang memberikan nilai keekonmian proyek yang menarik bagi investor pengembang panas bumi dengan harga yang terjangkau oleh pembeli satu-satunya yakni PLN. Inilah masalah utama yang harus kita cari solusinya," terangnya.

Riza Pasikki selaku Ketua Panitia Pelaksana IIGCE 2022 mengatakan, acara ini akan menjadi ajang bagi pelaku usaha hingga regulator untuk mempercepat pengembangan energi panas bumi.

"Oleh karena itu tujuan diselenggarakannya The 8th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2022 akan selalu menjadi forum dan momen besar dalam mempertemukan lembaga pemerintah, pembuat kebijakan, pemangku kepentingan, investor, perusahaan jasa, akademisi, dan pakar industri panas bumi untuk meningkatkan serta mempercepat pengembangan di industri panas bumi di Indonesia khususnya dan sudah tentu seluruh dunia sebagai tanggung jawab bersama bagi masa depan yang lebih baik," ujarnya.

Simak juga Video: Bye! Awal Tahun 2023 Kementerian ESDM Hapus Bensin Oktan Rendah

[Gambas:Video 20detik]



(acd/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT