ADVERTISEMENT

Tagihan Listrik Sudah Mahal, Eh Bulan Depan Inggris Naikkan Tarif Lagi

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 23 Sep 2022 13:17 WIB
Ilustrasi bendera Inggris
Tagihan Listrik Sudah Mahal, Eh Bulan Depan Inggris Naikkan Tarif Lagi/Foto: Ilustrasi (detikINET/Rachmatunnisa)
Jakarta -

Regulator energi Inggris mengumumkan akan menaikkan 80% batas utama tagihan listrik ke konsumen pada Oktober 2022. Tagihan listrik akan naik dari sebelumnya 1.971 poundsterling atau Rp 33,24 juta (kurs Rp 16.864) per tahun, rata-rata akan menjadi 3.549 poundsterling atau Rp 59,85 juta per tahun.

Aturan ini mencakup 24 juta rumah tangga. Sebanyak 4,5 juta rumah tangga prabayar juga menghadapi rencana kenaikan dari 2.017 poundsterling menjadi 3.608 poundsterling.

Dilansir CNBC, Jumat (23/9/2022), batasan tersebut tidak berlaku di Irlandia Utara di mana pemasok dapat menaikkan harga kapan saja setelah mendapatkan persetujuan dari regulator yang berbeda.

Harga gas telah melonjak ke tingkat rekor selama tahun lalu karena permintaan global tinggi dan turunnya impor dari Rusia menyusul invasi ke Ukraina. Hal ini juga menyebabkan kenaikan tarif listrik.

Awal bulan ini, Badan Pengawas Energi Inggris (The Office of Gas and Electricity Markets/Ofgem) mengumumkan akan menghitung ulang batas utama tagihan listrik setiap tiga bulan untuk mencerminkan volatilitas pasar.

Konsultan Cornwall Insight memperkirakan batas tersebut bisa naik menjadi 4.649 poundsterling pada kuartal I-2023 dan menjadi 5.341,08 poundsterling pada kuartal II-2023, sebelum turun sedikit menjadi 4.767,97 poundsterling pada kuartal III-2023.

Saat ini saja krisis biaya hidup di Inggris sudah parah. Jutaan warga di sana bahkan rela tidak makan demi bisa membayar tagihan listrik yang melonjak tinggi.

Laporan Money Advice Trust memuat bahwa 20% orang dewasa Inggris atau 10,9 juta orang menunggak tagihan listrik. Jumlah ini naik 3 juta atau sekitar 45% sejak Maret 2022.

Tidak hanya sampai di situ, terdapat 5,6 juta warga telah rela tidak makan dalam tiga bulan terakhir sebagai akibat dari krisis biaya hidup. Jajak pendapat dilakukan ke 2.000 orang dewasa Inggris di Agustus.

"Ini termasuk melewatkan makan sekali sehari atau tidak makan sama sekali pada beberapa hari," tulis laporan tersebut dikutip dari The Guardian.

(aid/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT