Jokowi Mau Setop Ekspor Timah, Aturannya Sudah Siap?

ADVERTISEMENT

Jokowi Mau Setop Ekspor Timah, Aturannya Sudah Siap?

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 29 Sep 2022 22:13 WIB
Presiden Jokowi memberikan sambutan lewat video di World Tourism Day di The Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Selasa (27/9/2022).
Foto: I Wayan Sui Suadnyana
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) semakin tegas mau menghentikan ekspor timah. Sementara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan sampai saat belum ada keputusan resmi berkaitan dengan larangan ekspor timah.

"Belum ada keputusan resmi ya nanti. Kita tunggu aja," kata Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Ridwan Jamaludin, ditemui usai acara GMP Award Kementerian ESDM, di Jakarta, Kamis (29/9/2022).

Beberapa waktu lalu, pengusaha memberikan pesan untuk pemerintah berkaitan dengan larangan ekspor timah. Ridwan menjelaskan bahwa pemerintah akan terbuka untuk menampung masukan dari pengusaha.

"Kalau ada masukan dari badan usaha bagus-bagus aja," lanjutnya.

Jokowi memang sudah berkali-kali menyatakan bahwa akan menyetop ekspor timah. Tidak hanya itu, rencananya ekspor tembaga juga akan dihentikan. Sementara saat ini kata Jokowi, kebijakan penghentian ekspor sudah diterapkan untuk komoditas nikel.

"Kita setop lagi (ekspor) timah, tembaga, kita setop lagi lagi bahan- bahan mentah yang kita ekspor mentahan," kata Jokowi dalam dalam UOB Annual Economic Outlook 2023 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta Pusat, Kamis (29/9/2022).

Jokowi mengatakan, langkah menyetop ekspor bahan mentah terbukti memberi lebih banyak benefit. Misalnya, hasil ekspor timah dalam bentuk mentah hanya menghasilkan US$ 1,1 miliar atau sekitar Rp 15 triliun. Namun ketika ekspor bahan mentah dihentikan, pendapatannya berlipat ganda.

"Nikel duku kita setop ramai orang datang ke sama, semua menyampaikan, pak hari-hari pak nanti ekspor anjlok. Nikel setiap tahun pada saat ekspor mentah kira-kira 4 tahun lalu hanya US$ 1,1 miliar atau sekitar Rp 15 triliun. Begitu kita hentikan, coba cek tahun 2021, US$ 20,9 miliar. Meloncat dari US$ 1,1 miliar ke US$ 20,9 miliar," ungkap Jokowi.

(ada/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT