Pembangkit Listrik Paling 'Kotor' di Australia Pensiun Lebih awal

ADVERTISEMENT

Pembangkit Listrik Paling 'Kotor' di Australia Pensiun Lebih awal

Ilyas Fadilah - detikFinance
Jumat, 30 Sep 2022 10:22 WIB
A miner uses a hammer to crush rocks with ore at Tierra Amarilla town, near Copiapo city, north of Santiago, Chile, December 16, 2015. As copper prices have slid to a more than six-year low, miners laboring away at the countless smaller mines that pock mark the Atacama desert are finding the buckets of ore they spend all day digging from the ground are fetching less and less money.   Picture taken December 16, 2015. REUTERS/Ivan Alvarado
Foto: REUTERS/Ivan Alvarado
Jakarta -

Pembangkit listrik tenaga batu bara Loy Yang A di Victoria, Australia, akan ditutup pada 2035. Australia sebagai salah satu penghasil emisi terbesar di dunia dianggap menjadi penghambat terhadap kebijakan pengendalian iklim.

Diketahui pembangkit listrik itu dimiliki oleh AGL Energy. Perusahaan energi ini menjadi salah satu yang terbesar di Australia, dan dipercaya menyumbang polusi yang besar juga. Banyak pihak menuntut mereka membatasi penggunaan bahan bakar fosil.

Melansir dari BBC, Jumat (30/9/2022). Loy Yang A bertanggung jawab atas lebih dari 3% pencemaran emisi di Australia. Menurut data terbaru Loy Yang A mengeluarkan 16,6 juta ton gas rumah kaca pada 2019-2020. Australia sendiri mengeluarkan 513,4 juta ton gas rumah kaca pada periode tersebut.

Menurut kepala eksekutif AGL Damien, rencana penutupan Loy Yang A merupakan gebrakan bagi Australia dalam perjalanannya menuju dekarbonisasi. Pabrik saat ini memasok sebagian besar energinya ke Victoria.

Loy Yang A dijadwalkan ditutup pada tahun 2048. Rencana tersebut dimajukan jadi tahun 2035, seiring dengan pergantian kepemimpinan di AGL. Awal tahun ini, miliarder Australia Mike Cannon-Brookes menjadi pemegang saham terbesar perusahaan.

Raksasa energi ini memiliki beberapa pembangkit listrik terbesar di Australia, dan menyumbang sekitar 8% dari emisi karbon yang dilaporkan negara itu.

Sejak pemilihannya pada bulan Mei, Perdana Menteri Anthony Albanese telah berkomitmen untuk pengurangan 43% pada emisi 2005 pada tahun 2030. Target ini naik dari janji pendahulunya sebesar 26-28%.

Tetapi para ilmuwan telah mengkritik pemerintah karena terus mendukung industri bahan bakar fosil. Dewan Iklim mengatakan keputusan AGL adalah bukti bahwa batu bara tidak lagi layak secara komersial di Australia.

"Batubara tidak dapat bersaing dalam hal biaya dengan energi terbarukan, juga tidak fleksibel, menua, tidak dapat diandalkan, dan tidak efisien," kata juru bicara Greg Bourne.

Dan pada hari Rabu, pemerintah negara bagian Queensland mengumumkan rencana untuk mengalihkan penggunaan energi dari batu bara ke energi lain di tahun 2035.



Simak Video "Warga Kulon Progo Manfaatkan Pembangkit Listrik Mandiri"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/ang)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT