Pertamina Guyur Rp 2,4 T Lewat TubanPetro buat Garap Proyek Ini

ADVERTISEMENT

Pertamina Guyur Rp 2,4 T Lewat TubanPetro buat Garap Proyek Ini

Ilyas Fadilah - detikFinance
Rabu, 12 Okt 2022 12:44 WIB
Logo Pertamina di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Pengembangan industri petrokimia nasional melalui PT Tuban Petrochemical Industries (TubanPetro) Group, akan menjadi jawaban atas persoalan masih tingginya impor bahan petrokimia yang menjadi salah satu ganjalan bagi neraca perdagangan Indonesia.

Paling baru, perluasan kapasitas produksi PT Polytama Propindo, salah satu anak usaha TubanPetro, melalui proyek PP 2 Balongan, kini bergerak lebih maju.

Dalam RUPS Luar Biasa 2022 TubanPetro yang dilaksanakan pada Kamis (6/10), disepakati penerbitan saham baru (rights issue) senilai ekuivalen US$ 160 juta atau setara Rp 2,44 triliun (kurs Rp 15.300/US$) dengan dilakukan Penawaran Terbatas atas saham tersebut kepada PT Pertamina (Persero).

RUPS Luar Biasa juga menyetujui untuk melakukan penambahan modal saham pada Polytama sebesar kurang lebih US$ 160 juta yang akan digunakan untuk pendanaan proyek PP 2 Balongan.

Sebagai informasi, untuk pengembangan PP 2 Balongan di Polytama diperkirakan dibutuhkan pendanaan hingga USD323,3 juta, dimana porsi ekuitas mencapai US$ 160 juta.

RUPS Luar Biasa TubanPetro 2022, merupakan tindak lanjut atas RUPS Luar Biasa Polytama pada 28 September 2022 yang menyepakati peningkatan modal dasar serta modal ditempatkan dengan cara menerbitkan saham baru (right issue) yang akan digunakan untuk pendanaan proyek PP 2 Balongan.

Direktur Utama TubanPetro, Sukriyanto, menyampaikan, pengembangan Polytama, sejalan dengan permintaan Presiden RI Joko Widodo terkait optimalisasi industri petrokimia untuk menekan kebutuhan impor dan untuk memenuhi kebutuhan permintaan biji plastik dalam negeri.

''Upaya tersebut merupakan langkah strategis dan menjadi peran perusahaan untuk semakin berkontribusi bagi negara,'' kata Sukriyanto dalam keterangan resmi.

Dijelaskan, penambahan modal untuk perluasan pabrik Polytama, juga merupakan wujud nyata komitmen Pemerintah bersama Pertamina untuk mendukung TubanPetro sebagai industri petrokimia nasional. Dengan demikian, TubanPetro bisa dikembangkan menjadi industri petrokimia nasional terintegrasi.

Perluasan kapasitas produksi Polytama hingga dua kali lipat, lanjut Sukriyanto, diharapkan dapat mengurangi impor Polypropylene dengan meningkatkan produksi Polypropylene dalam negeri. Kemudian, memaksimalkan pemanfaatan produk Propylene dari kilang milik PT Kilang Pertamina Internasional (KPI).

''Polytama akan memproduksi, memasarkan, dan mendistribusikan semua produk yang dihasilkan PP 2 Balongan,'' ucap Sukriyanto.

Saat ini, proyek PP 2 Balongan juga sudah menyelesaikan sejumlah tahapan. Dari sisi perizinan mulai perluasan usaha, lokasi, rekomendasi kesesuaian tata ruang daerah, dan rekomendasi tata guna tanah, sudah selesai. Sedangkan untuk proses perizinan lain seperti lingkungan, rekomendasi andalalin, dan lokasi jetty (dermaga), masih dalam proses.

Setelah proses penambahan modal selesai, dilakukan penyusunan Front- End Engineering Design (FEED) yang ditargetkan akan tuntas dalam kurun waktu 6 bulan. Setelah FEED tuntas, dilanjutkan tahap kontruksi. Dalam pelaksanaan pengembangan PP 2 Balongan, TubanPetro berkoordinasi dengan Subholding Pertamina, yaitu PT Kilang Pertamina Internasional (KPI). Sebagai tambahan informasi, pembebasan lahan untuk proyek ini juga sudah rampung 98%.

Pengembangan PP 2 Balongan ini juga sesuai dengan Head of Agreement (HOA) antara Kementerian Keuangan dan PT Pertamina (Persero) pada 15 Agustus 2018 tentang Pengembangan Industri Petrokimia Nasional dan Rencana Jangka Panjang (RJP), serta usulan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Perseroan Tahun 2022 yang telah disampaikan kepada para pemegang saham.

Sukriyanto menegaskan, TubanPetro berkomitmen penuh untuk mengelola proyek kilang petrokimia guna menurunkan impor produk turunan petrokimia.

''Semoga pengembangan Polytama melalui perluasan kapasitas produksi akan memberikan manfaat dan berjalan sesuai rencana, juga mampu menekan defisit neraca perdagangan," ucap Sukriyanto.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT