Investasi Migas Masih Digenjot di Tengah Seruan Energi Terbarukan

ADVERTISEMENT

IOG 2022

Investasi Migas Masih Digenjot di Tengah Seruan Energi Terbarukan

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Senin, 14 Nov 2022 11:42 WIB
Pengeboran migas Pertamina Hulu Mahakam
Ilustrasi Foto: dok. Pertamina Hulu Mahakam
Jakarta -

Kebutuhan minyak dan gas bumi (migas) diproyeksikan masih akan besar, meskipun kebijakan transisi energi energi saat ini sudah mulai dilakukan ditandai dengan berbagai kebijakan ataupun ketersediaan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT).

Untuk itu, produksi minyak dan gas harus terus digenjot agar kebutuhan energi dapat terpenuhi. Pasalnya, saat ini kemampuan untuk memproduksi migas di tanah air belum mampu memenuhi semua kebutuhan, sehingga impor terus terjadi dan ini tentu membebani keuangan Negara.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengemukakan dalam upaya mengejar target produksi migas di 2030 Indonesia membutuhkan investasi hulu migas senilai US$ 20 miliar hingga US$ 26 miliar per tahun. Itulah sebabnya, salah satu agenda utama pemerintah adalah meningkatkan gairah investasi di hulu migas.

Pemerintah dan SKK Migas masih optimistis untuk mengejar target produksi migas. Namun untuk mengejar target tersebut dibutuhkan investor. Untuk itu berbagai upaya untuk membeberkan potensi migas Indonesia terus dilakukan salah satunya dengan penyelenggaraan 3rd International Convention of Indonesia Upstream Oil and Gas 2022 (IOG 2022).

Direktur Jendral (Dirjen) Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tutuka Ariadji mendukung penuh IOG 2022. Konvensi tersebut ditujukan untuk menarik investasi dalam rangka meningkatkan produksi jangka pendek dan jangka panjang.

Pemerintah ingin menunjukkan potensi sumberdaya indonesia dan berbagai kemudahan berinvestasi. "Investor dapat melihat langsung data-data prospek migas Indonesia," kata Tutuka dikutip Senin (14/11/2022).

Mulyanto, Anggota Komisi VII DPR RI mengungkapkan SKK Migas perlu kerja keras untuk menarik minat investor migas dengan berbagai promosi, insentif fiskal dan non fiskal, dan yang utama kepastian.

"IOG 2022 adalah salah satu cara untuk itu. Saya rasa ini bagus dan perlu didukung," ujar Mulyanto.

Tumbur Parlindungan, Praktisi Migas yang juga mantan Presiden Indonesia Petroleum Association (IPA), menyatakan produksi migas akan terus menurun bila tidak ada penemuan baru (new reserve and resources) atau unconventional activities migas tidak dilakukan dì Indonesia.

"Indonesia membutuhkan investasi besar bila ingin meningkatkan produksinya. Alternativenya, mengundang para pemain di oil and gas kembali ke Indonesia untuk berinvestasi," kata Tumbur.

Lanjut ke halaman berikutnya



Simak Video "Menkeu Setujui Holding-Subholding PLN: Tak Ada Halangan dari Pajak"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT